Posts Tagged 'Madiun'

Sepedahan Menuju Kerajaan Banjarsari Madiun

Beberapa hari yang lalu saya mendapati video menarik tentang kerajaan Gelang-Gelang di Madiun. Video yang disuguhkan oleh JTV benar-benar membuka wawasan baru saja soal sejarah kota Madiun, yang selama ini hanya tahu soal Kuncen dan situs Simbatan.

Penemuan artefak-artefak kuno di Dolopo membuat hati ini membara ingin mengontel sepeda untuk kesana, tapi karena jarak yang terlalu jauh saya mengurungkan niat.

Tapi rekomendasi di Youtube memberikan thumbnail yang membuat mata ini melirik tentang masjid kuno di Madiun, awalnya aku mengira itu masjid kuno Kuncen. “Klo masjid Kuncen saya pernah ke sana”. Tapi ternyata ini berbeda, ini masjid kuno lain yang terletak di desa Banjarsari Sewulan Kabubaten Madiun.

Dalam video, creator memperkenalkan kepada saya ada kerajaan kecil Islam di Madiun, bernama kerajaan Banjarsari yang didirikan oleh Muhammad bin Umar tahun 1753. Setelah menghabiskan beberapa menit melihat isi video di layar komputer, seketika saya langsung mencari lokasi masjid Kuno itu di Google Maps. Ternyata letaknya tidak jauh dari rumah sekitar 6 km dari rumah.

Hari Minggu jam 15.30 setelah menutup toko, saya mengayuh sepeda Polygon menuju lokasi. Jiwa petualang yang bergejolak membimbing saya ke jalan yang tidak biasa, jalan bergeronjal dan setapak adalah pilihan utama, asal masih bisa dilalui sepeda onthel pasti ku terjang.

Kali ini saya menyusuri bekas rel kereta api, sampai di Kanigoro saya mendapati jembatan bekas rel kereta api, entah ini kereta untuk tebu atau kereta Madiun Ponorogo. Setelah melewati jembatan itu bumi menyuguhkan jalan bergeronjal yang setiap harinya dilalui oleh petani dan pemandangan kanan kiri khas kota Madiun, hamparan padi yang telah menguning menunggu untuk dipanen sangat memanjakan mata.

Getaran sepeda akibat jalan bergeronjal menjadi kenikmatan tersendiri, hingga akhirnya ketemu jalan beraspal, dibandingkan jalan sebelumnya jalan aspal ini bagaikan kulit seorang putri raja, mulus. Jalan itu adalah jalan Lawu, aku menyusurinya hingga malah kesasar sampai SDN Banjarsari wetan. Mungkin karena kurang minum membuat saya kurang konsenterasi hingga tidak tahu arah.

Alhamdulillah tidak tersesat terlalu jauh, tapi tetap membuat kebingungan. Setelah balik arah ketemu jalan Kanigoro Pagotan. Itu berarti tidak lama lagi saya akan bertemu dengan masjid kuno.

Masjid kuno ini tidak sulit ditemukan, karena model bangunannya yang begitu mencolok bahkan orang yang melintas pasti melihatnya. Gerbang tinggi model lawas, didominasi dengan warna putih dengan tulisan arab menyambut ku.

Sepeda ku aku parkir di halaman masjid yang luas, kudapati masjid kecil pendek terkesan jauh dari desian moderen. Walaupun bagitu pesona masjid itu membawa ku ke masa lalu. Mengimajinasikan bagaimana “mbah-mbah” dulu hidup dan belajar agama Islam di bangunan seperti ini.

Ku lepas alas kaki, kutapakan kaki ku untuk segera melihat ke dalam masjid. “Waaaaaaah”, cuma kata itu yang terucap dari mulut ku sambil geleng-geleng kepala. Masjid yang telah berusia 200 tahun masih kokoh berdiri dengan tiang penyangga dari kayu.

Saya tekankan aura di dalam masjid berbeda di bandingkan dengan masjid lainnya. Aroma kesturi meyelimuti masjid, langsung mengingatkan aroma parfum yang dicintai Rasullulah sallallahu ‘alaihi wasallam.

Sangat disayangkan saya tidak mensempatkan diri untuk sholat karena menggunakan celana “gemes”, mungkin hari Jum’at besok insha’allah sholat di sana.

Sinar Matahari mulai mengguning di barat, jam di speedometer telah menunjukan pukul 17:00. Dengan perasaan tidak puas dan penasaran saya meninggalkan masjid, sampai tulisan ini dimuat hati masih terhabat di sana. Saya masih belum bisa mengorek sejarah masjid ini karena tidak ada papan untuk menceritakan sejarahnya, kan biasanya di tempat-tempat sejarah ada “mading” yang menceritakan tempat itu.

Perjalanan pulang saya melewati Krangkeng, ada sungai yang hilirnya kering tapi hulunya banyak air. Menurut sejarahwan, tempat itu termasuk wilayah kerajaan Gelang-Gelang dan sungai itu ada aliran air bawah tanah.

Klarifikasi Soal Tuduhan Merusak Harga Pasar

Dalam bisnis selalu ada persaingan, tapi itu dalam kewajaran jika masih dalam etika bisnis di dalamnya. Kami tau dan kami mengerti karena saya pernah kuliah dan belajar etika bisnis di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) walaupun saya jurusan teknik informatika.

Tepat hari ini kami mendengarkan kabar tidak menyenangkan, ada beberapa pihak yang mengatakan kami merusak harga pasar, benarkah demikian? Dalam artikel ini kami akan mencoba klarifikasi bualan itu, karena pada kenyataannya itu tidak benar dan menghancurkan hubungan business to business kita.

Pertama, kami tidak pernah merusak harga pasar. Harga produk kami tidak dijual di bawah harga pasar untuk merusak harga, malah justru kami menyamakan dengan harga umum agar kondisi ekonomi tetap aman, kondusif dan tercipta persaingan sehat sesama pedagang.

Contoh, harga Aqua galon 19 liter, kami jual dengan harga Rp, 15.000 pada awalnya, pertanggal 1 April 2017 kami naikan ke harga Rp, 16.000 karena dari pihak Pasifik (distributor Aqua Madiun) menaikan harga semua produk-produknya. Di Madiun harga Aqua galon 19 liter rata-rata seharga Rp, 15.000, apakah kami merusak harga pasar dengan menjual sama dengan harga rata-rata di Madiun?

Harga Cleo galon 19 liter, kami jual dengan harga Rp, 16.000 dan per tanggal 1 Mei harga naik menjadi Rp, 16.500. Harga itu juga sama dengan harga rata-rata Cleo di Madiun, apakah kami merusak harga pasar? Bahkan kemarin ada pelanggan baru datang membeli Cleo, kami beri harga Rp, 16.500, dia tidak jadi beli karena menganggap harga Cleo kami mahal, apakah kami merusak harga pasar?

Gas subsidi 3 kg, kami jual dengan harga Rp, 19.000, dimana pada awalnya kami menjual dengan harga Rp, 18.500. Seiring perjalanan waktu gas 3 kg semakin langka dan permintaan semakin tinggi, harga kami naikan. Sedang harga rata-rata gas di Madiun adalah Rp, 18.500 – 19.500. Apakah kami merusak harga pasar?

Harga Aqua gelas Rp, 26.000, Club gelas Rp, 18.000, Cleo gelas Rp, 24.000, gas non-subsidi 12 kg Rp, 140.000 dan Bluegaz Rp, 99.000. Semua harga produk-produk yang kami sebutkan itu sama seperti harga rata-rata di Madiun. Apakah kami merusak harga pasar?

Harga Bluegaz kami seperti yang tertera pada tabung Bluegaz yaitu Rp, 99.000, apakah kami merusak harga pasar?

Menuduh kami dengan “adole ngawur, ngerusak pasaran” (jualannya ngawur, merusak harga pasar) itu sangat keji dan tidak benar. Karena kami berbisnis tidak menggunakan taktik licik seperti itu.

Kedua, jika mau andil dan menuduh kami merusak harga pasar, perlu diketahui harga gas subsidi 3 kg di jalan Salak Madiun ada yang menjual seharga Rp, 17.000 kenapa mereka tidak dituduh merusak harga pasar? Sedang kami menjual gas 3 kg seharga Rp, 19.000 dituduh merusak harga pasar.

Satu contoh lagi, di dekat masjid kuno Madiun (saya tidak tahu jalan apa), mereka menjual harga gas 12 Kg dengan harga Rp, 134.000 sedang kami menjual dengan harga Rp, 140.000, apakah kami merusak harga pasar? Apakah karena kita dilahan yang sama lantas menuduh kami merusak harga pasar?

Koreksi diri, sebelum melakukan tuduhan keji itu lebih baik kita koreksi diri, apakah produk yang kita jual berada dalam kisaran harga wajar atau pelayanan kita kepada pelanggan yang buruk. Dimana hal itu bisa membuat pelanggan lari, bisa jadi pelanggan lari dikarena pelayanan kita yang tidak memuaskan, tidak melulu soal harga.

Ketahuilah sebelah barat toko kami, ada agen gas subsidi 3 kg, tapi warga sekitar jarang yang membeli di sana, padahal harga gas mereka jual dengan harga eceren tertinggi untuk agen, yaitu Rp, 16.500. Kenapa bisa seperti itu? karena pelayanan mereka jelek dan suka mengganggu ketertiban umum.

Di perumahan Green Nirvana, ada yang 1 pelanggan Aqua galon, kami kasih harga Rp, 16.000 tapi dia selalu memberi kami uang Rp, 20.000. Kenapa pelanggan rela membeli galon dengan harga lebih? Karena pelayanan kami.

Ingat harga murah tidak selalu menjadi patokan toko laris atau tidak, tapi pelayanan, apa yang kita berikan kepada pelanggan. Indomart dan Alfamart Aqua gelas Rp, 32.000 juga laris manis, dan pelanggan mereka ya mau membayarnya. Kenapa? Karena pelayanannya.

Merusak bisnis kita sendiri, justru tindakan menuduh orang lain merusak harga pasar dan menjelek-jelekan di depan pelanggan dan distributor kita, membuat citra kita jelek sendiri, sehingga pelanggan-pelanggan melihat citra buruk kita, dilihat dari akhlak yang kita cerminkan, niat hati mau menjelekan orang lain, eh malah menjerumuskan kita sendiri, bukankah itu senjata makan tuan?

Kami tidak mau berlarut-larut dalam tuduhan keji ini, karena kami anggap sebagai angin lalu, cukup tulisan ini membantah tuduhan keji itu. Tapi kami akan memberikan nasehat kepada semuanya, hentikan tuduhan keji itu dan itu lebih baik, dari pada meneruskan perbuatan buruk itu karena sama saja menggali kuburan bisnis kita sendiri.

Dan satu lagi, baca buku Marketing WOW yang warna merah, itu bisa membantu bisnis kita dari pada menjelekan bisnis orang lain 🙂

Asiknya Membaca Buku di Perpustakaan Madiun

IMG_20151215_142831

Siang ini, di tengah teriknya sinar Matahari kota Madiun, saya ngebet ingin ke Perpustakaan Madiun untuk mencari buku tentang ternak ayam kampung. Kebetulan saya lagi fokus ternak ayam kampung dan membutuhkan informasi yang lengkap soal cara ternak ayam kampung. Karena harga buku semakin mahal, bisa mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu, lebih baik datang ke Perpustakaan Madiun untuk membaca koleksi buku di sana.

Tak jauh dari tempat tinggal ku, sekitar kurang lebih 2 km jaraknya. Saya bersama adik keponakan bergegas mengendarai motor menuju Perpustakaan. Perpustakaan Madiun berlokasi di jalan Agus Salim, menggunakan bangunan bekas SMA 6 yang sekarang telah pindah di bekas SMA 3.

Bangunan bekas sekolahan itu disulap oleh pemerintah daerah menjadi perpustakaan umum yang luas. Dibandingkan lokasi Perpustakaan Madiun yang lama di belakang stadion, lokasi baru ini lebih luas dan nyaman.

Halaman depan Perpustakaan dijadikan tempat parkir motor dan mobil perpustakaan keliling. Sayang tempat parkirnya tak begitu luas, hanya cukup untuk 10 motor. Jika ada pengunjung Perpustakaan naik mobil pasti kesulitan untuk parkir, karena memang tidak ada tempatnya,. Kalaupun ada, jika mobil perpustakaan lagi keluar karena bisa mengambil tempat parkir mobil perpustakaan, itu pun cuma 3 tempat.

Siang hari itu memang jam anak SMP 2 pulang sekolah, dan saya mendapati perpustakaan itu banyak anak-anak SMP yang mengunjungi Perpustakaan. Tidak kaget karena lokasi Perpustakaan Madiun berdekatan dengan sekolah SMP 2 Madiun. Mereka (anak-anak SMP) di sana ada yang membaca, menghabiskan waktu bersama teman, internetan, nunggu orang tua jemput bahkan tidur-tiduran sambil baca di ruang atas. Kebetulan ruang Perpustakaan Madiun ber AC jadi enak buat santai sambil membaca buku.

Sesampainya di Perpustakaan langsung disambut dengan gelaran foto-foto lama tentang sejarah kota Madiun. Hampir setiap dindingnya dipasang foto-foto lama, mulai dari tentara Belanda berbaris, banjir Madiun dan lain-lain. Jika ingin melihat foto Madiun tempoe doloe silahkan mampir ke Perpustakaan Madiun.

Di dalam ruangan perpustakaan hawa dingin langsung menyerang, selain ruangannya yang luas dan atap yang tinggi membuat suasana di dalam berbeda 180 derajat dibandingkan dengan cuaca Madiun yang panas karena badai Elnino. Ditambah dengan ruang yang ber-AC menambah nikmat suasana.

Di dalam langsung disambut dengan petugas Perpustakaan, seperti kantor pemerintahan pada umumnya, jangan harap ada petugas cantik seperti di bank, karena di sini semuanya pria dan tua-tua.

Untuk meminjam buku diwajiban menjadi anggota, tidak dipungut biaya tapi syaratnya harus membawa foto kopi KTP. Sedikit kritik, sebenarnya mendaftar menjadi anggota Perpustakaan tidak usah membawa foto kopi KTP, cukup KTP saja. Karena apa? Setelah saya memberikan foto kopi KTP itu, ternyata hanya untuk menginput data ke komputer dan setelah itu dikembalikan lagi, konyolkan? Iya kalau foto kopian KTP itu dimasukan ke arsip tidak masalah, tapi ini dikembalikan lagi.

Perpustakaan Madiun sudah cukup moderen, kenapa? Karena sudah memberlakukan sistem komputerisasi. Anggota baru daftar mendapatkan kartu anggota Perpustakaan, untuk masuk cukup scan barcode pada kartu anggota langsung masuk tanpa input data lagi. Saran saya lebih baik tidak usah pakai foto kopi KTP lagi deh, karena hanya akan membuat ribet orang yang ingin mendaftar jadi anggota Perputakaan.

Oh ya proses pembuatakan kartu anggota Perpustakaan cepat kok, tidak sampai 15 menit sudah jadi. Sebenarnya 5 menit cukup, karena petugasnya sudah tua dan gaptek jadi lama.

Setelah mendaftar dan mendapatkan kartu anggota, saja menuju ke barisan rak-rak buku, dimana tersusun rapi buku-buku koleksi Perpustakaan Madiun. Setiap buku dikelompokan sesuai dengan kategorinya, ada sastra, pertanian, komputer, sejarah, agama, kesehatan dan lain-lain.

Sayang pengelompokan ini kurang maksimal, saya masih mendapati buku bertema kesehatan di rak buku komputer. Mungkin karena banyak oknum-oknum yang mengembalikan buku bacaanya tidak pada tempatnya lagi. Lebih baik buku yang telah diambil dalam rak, tidak usah dimasukan ke dalam rak lagi, lebih baik ditaruh di meja, biar petugas yang mengembalikannya lagi karena mereka lebih tau tempatnya.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya mencari buku tentang ternak Ayam harus kesulitan karena tidak menemukan rak buku khusus perternakan, malah tidak ada. Setelah saya menelursuri setiap rak, akhirnya saya menemukan buku “Panduan Lengkap Ayam” karya Prof. Iman Rahayu di rak menajemen. Jika saja penatakaan buku lebih rapa lagi mungkin tak butuh waktu lama untuk mendapatkan buku yang dicari.

Saya memberikan nilai plus kepada pihak Perpustakaan karena koleksi bukunya masih bagus walaupun buku lama. Setiap buku diberikan sampul plastik terlihat rapi dan baru, mungkin karena itulah koleksi buku Perpustakaan Madiun terawat dengan baik.

Terdapat meja dan kursi untuk membaca, kursinya empuk, meja-meja kecil memuat 2 orang ditata dengan baik. Tempat terbaik ku adalah di pojok selatan dekat rak sejarah karena paling adem, tepat di bawah AC. Jika tidak suka membaca sambil duduk di depan meja, silakan ke ruang atas. Di ruang atas terdapat ruangan yang cukup lupas dengan berlapiskan karpet yang bisa dipakai untuk membaca sambil tidur-tiduran. Tapi koleksi buku di ruang atas terbatas, tidak seperti di ruang bawah.

Tak usah khawatir soal koneksi Internet, Perpustakaan Madiun menyediakan internet gratis. Boleh membawa laptop ke dalam untuk internetan sepuas mu. Banyak mahasiswa yang membawa laptop untuk menulis, mungkin dia sedang mengerjakan skripsi. Tidak punya laptop? Tak apa, di sana juga tersedia 4 atau 5 komputer yang bisa dipakai untuk internetan. Biasanya anak-anak SMP memanfaatkan internet itu untuk nonton Youtube atau sekedar membuka Facebook.

Bagi pengunjung baru, perhatikanlah tata tertib yang ada di Perpustakaan Madiun karena itu untuk kebaikan setiap kita sendiri. Juga jangan ramai di perpustakaan agar tidak mengganggu orang lain yang sedang membaca. Pastikan buku yang anda pinjam di rawat dan dikembalikan, itu sudah hak dan kewajiban mu. Jadilah orang beradab di Perpustakaan demi menjaga Perpustakaan Madiun tetap eksis, akan merugi kita jika Perpustakaan yang telah dibangun ini hilang. Seperti yang kita ketahui di Indonesia, orang minat membaca sedikit dan Perpustakaan juga kurang lengkap jadi harap dijaga Perpustakaan satu-satunya di kota Madiun ini.

Oh ya dibandingkan dengan Perpustakaan Malang dan UMM, Perpustakaan Madiun kalah jauh, semoga Pemerintah Madiun memberikan perhatian lebih terhadap Perpustakaan Madiun sehingga bisa menjadi perpustakaan terbesar di Indonesia. Aamiin.


Blog Stats

  • 313,868 hits