Posts Tagged 'Bisnis'

Kenapa Pajak untuk Orang Kaya Menjerat Kita

Otak nyeleneh saya sedang mikir tentang pajak, walaupun saya tidak setuju dengan sistem perpajakan karena di dalam Islam hal itu hukumnya haram. Tapi di era kapitalis perpajakan itu tidak bisa dihindari. Dalam artikel ini saya hendak mencoba membedah kenapa orang kaya membayar pajak dengan nilai kecil, dan orang menengah ke bawah membayar lebih tinggi dari orang kaya, kenapa bisa seperti itu?

Dalam buku “Why Students A Work for C Students” karya Robert Kiyosaki, menjelaskan kenapa orang kaya bayar lebih sedikit dibandingkan dengan orang kaya adalah karena orang kaya melek finansial dibandingkan dengan orang miskin. Orang kaya lebih cerdas bagaimana “menghindari” (dalam arti positif, bukan mengeplang pajak) pajak yang coba dijeratkan kepada mereka oleh pemerintah.

Perbedaan mendasar dari orang kaya dan miskin adalah manajerial uang, orang kaya membeli barang untuk mendapatkan uang lagi, sedangkan orang miskin membeli barang untuk membebani hidup mereka.

Contohnya, orang kaya membeli mobil pick up untuk kepengtingan bisnis, dimana setiap bulan bisa menghasilkan uang dari jasa angkut, atau meningkatkan kualitas bisnisnya. Sedang orang miskin membeli mobil untuk kebutuhan rumah tangga, dan membiayai kebutuhan biaya mobil dengan uang gajinya setiap bulan, sehingga pendapatannya terpotong oleh biaya kebutuhan mobil.

Mereka sama-sama membeli mobil, tapi orang kaya membeli mobil untuk meningkatkan pundi-punyi uang mereka, sedangkan satunya untuk memangkas kekayaannya.

Soal pajak orang kaya pandai dalam mengkontrol biaya pajak agar tidak membengkak, contoh simplenya orang kaya membeli 1 mobil untuk kebutuhan sehari-hari dan dibisniskan, sedang orang miskin membeli mobil lebih banyak sehingga harus membayar pajak lebih banyak dari orang kaya.

Tapi seringkali saya melihat orang kaya punya mobil banyak? Oh anda lupa, mobil banyak mereka digunakan untuk apa? Seringkali mobil yang mereka punya adalah mobil klasik atau langka dimana, nilainya akan bertambah setiap tahunnya. Sebagai contoh orang kaya membeli mobil klasik seharga 500 juta dalam waktu 10 tahun bisa menjadi 1 Milyar.

Sedang orang miskin menumpuk mobil yang nilainya selalu turun setiap harinya, apakah anda pernah mendapati harga mobil Avanza naik setiap tahunnya? Atau semakin turun?

Pengalaman pribadi saya, ada tetangga saya bertanya “Darimana kamu mendapatkan modal untuk membuka rental PS4?”, saya balik bertanya kepada dia “Darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli motor (laki)?”. Padahal nilai modal membuka PS4 sama dengan harga motor yang dia beli, tapi perbedaannya rental PS4 saya menghasilkan uang, sedang motor dia memangkas penghasilan dia, dan lagi rental PS4 bebas pajak. Bagaimana dengan motor? Harus membayar pajak setiap tahunnya.

Advertisements

Kegagalan adalah Pondasi Sempurna Sebuah Kesuksesan

Kegagalan merupakan salah satu momok menakutkan bagi calon pengusaha, mereka acap kali melihat titik hitam itu sebagai sebuah jurang yang membatasi mereka menuju kesuksesan. Ketika mereka terbentur kegagalan, banyak diantara calon pengusaha harus putus asa hingga tidak bisa melihat titik terang dari masalah itu.

Sebenarnya apakah semenakutkan itu sebuah kegagalan? Apakah karena kita telah hilang uang (modal) lantas kegagalan itu menjadi mimpi buruk? Tentu tidak, banyak pengusaha yang mulai dari nol bahkan minus karena sering gagal tapi pada akhirnya bisa mempunyai bisnis yang hebat.

Coba kita tanya pengusaha di sekitar kita, entah kawan, tetangga atau siapa pun, sebelum mereka usaha itu sudah berapa kali mengalami kegagalan?

Bagaimana klo mindset sedikit kita rubah, melihat sebuah kegagaln adalah sebuah pondasi untuk membangun bisnis kita, bukan lagi sebuah hal negatif. Merubah sudut pandang sedikit saja dapat membuat mental kita lebih siap menerima kegagalan dan memudahkan untuk bangkit lagi.

Bukankah hidup kita sering mendapati kegagalan? Contoh di sekolah, ketika SD (sekolah dasar) sering kali tidak dapat menjawab perkalian, tapi seiring waktu kita bisa menjawab bahkan mengerti konsep perkalian. Di game juga seperti itu, melawan bos untuk pertama kalinya sering mati, tapi ketika sudah tahu kelemahan bos dan celah untuk mengelahkannya, kita dapat mengalahkan bos dengan mudah.

Kita lihat kebelakang, apa kegagalan kita dahulu tapi mahir di masa sekarang? Banyak bukan? Bagaimana cara kita berhasil mengatasi masalah itu? Terapkan cara itu juga dalam bisnis kita.

3 PlayStation 4 Telah Datang, Bisnis Baru Dimulai

Alhamdulillah sekitar pukul 12, 3 PlayStation 4 pesanan ku akhirnya datang juga setelah menunggu 4 hari lamanya. Saya membelinya di Tokopedia seharga kurang lebih 3 juta. Rencananya ke 3 PS ini akan saya pakai untuk usaha rental PS4 di Madiun, karena saya melihat potensi besar dalam bisnis ini. Masih minim persewaan PS4 dan lokasi yang strategis dekat dengan kampus, dimana konsumennya rata-rata adalah anak kampus.

Walaupun PS sudah datang, masih banyak kerjaan yang harus digarap, seperti TV yang belum ada. Memerlukan 3 televisi untuk menjalankan bisnis ini, alhamdulillah sudah ada TV satu di rumah yang bisa dibuat untuk keperluan rental. Gak peduli nanti keluarga nonton TV atau kagak, toh biasanya TV itu juga buat nonton film India, gak berfaedah sama sekalikan?

Oh iya menyoal tentang konsumen, perlu diketahui temmpat ku dikelilingi 4 kampus, tapi yang paling dekat adalah kampus Widia Yuana, kampus Katolik dimana banyak orang luar Jawa yang belajar di sana. Saya menganalisis mahasiswa dari luar Jawa suka sekali main PS, sampai lupa waktu. Bukankah itu pasar yang potensial?

Selain itu saya juga membuat konsep rental PlayStation yang berbeda dengan yang lain, free wifi, di tempat ku belum ada rental PS yang memberikan layanan wifi gratis, tentu ini akan menjadi nilai lebih rental ku nanti. Bagaimana dengan biaya wifi tiap bulan, ditanggung siapa? Wifi sudah ada yang menanggung dari keuntungan usaha ku dari jualan air mineral dan gas. Dan masih banyak strategi-strategi bisnis yang aku siapkan untuk usaha ini.

Konsep itu juga aku gunakan pada bisnis air mineral ku, dimana gratis ongkos kirim, karena biaya bensin sudah ditanggung oleh penjualan telur ayam ku. Sehingga biaya-biaya operasional bisa ditekan dan akan memberikan nilai lebih pakai usaha kita.

Berikutnya apa lagi ya? Entalah saya lagi menggebu-gebu untuk segera membuka usaha baru ini, minta doanya agar urusan dan rejeki lancar.

Mengedukasi Masyarakat Menggunakan Gas Non-Subsidi

Rencana pemerintah untuk mengurangi subsidi tidak main-main, terutama di sektor migas. Pemerintah melalui Pertamina tengah getol menekan subsidi yang terus membengkak dikarenakan tidak tepat sasaran, terutama gas 3 kg. Selama ini penjualan gas 3 kg menggunakan sistem terbuka, dimana setiap orang bisa membelinya. Padahal gas 3 kg diperuntukan bagi masyarakat miskin pasca peralihan minyak ke gas. Tapi sistem itu malah membuat orang-orang kaya menikmatinya dan mengeksploitas penggunaan gas untuk bisnis dan konsumsi di luar peruntukannya, seperti penghangat air mandi.

Untuk mengatasi masalah itu, beberapa bulan lalu Pertamina meluncurkan Bright Gas 5,5 Kg untuk mengajak masyarakat beralih ke gas non-subsidi. Di beberapa media Bright Gas dikabarkan disambut positif oleh masyarakat, tapi kenyataan di lapangan yang saya alami sendiri, masyarakat masih enggan untuk beralih ke gas non-subsidi.

Perlu langkah strategis agar masyarakat mau menggunakan gas non-subsidi, selain Pertamina yang harus gencar mempromosikan Bright Gas di media televisi, agen dan penjual harus pro-aktif mengajak masyarakat menanggalkan gas 3 kg. Langkah itu juga saya lakukan, walaupun awalnya berat banyak penolakan dikarena harganya yang relatif mahal.

Penjualan memang tidak selalu sesuai dengan harapan, terutama produk baru yang baru dikenal masyarakat. Maka saya mencoba untuk mengedukasi mereka beralih ke Bright Gas 5 kg. Kelangkaan gas 3 kg dan ketidakstabilan harga menjadi senjata utama ku untuk membujuk mereka. Di Madiun, gas 3 kg mulai sulit didapatkan, walaupun pasokan dari Pertamina lancar tapi sepertinya kebutuhan gas 3 kg jauh lebih dari pasokannya. Maka saya mengajak masyarakat untuk beralih ke Bright Gas 5 kg, dengan jaminan stok gas yang aman dan harga yang stabil.

Sasaran utama saya adalah produsen roti, kebetulan di dekat toko ku ada 2 produsen roti. Sebelum Bright Gas 5 kg dirilis ke pasaran, mereka menggunakan gas 3 kg untuk produksi. Dalam 1 minggu mereka bisa menghabiskan 6 tabung gas 3 kg, sehingga perlu menyiapkan minimal 12 tabung 3 kg agar produksi roti mereka tetap berjalan lancar. Dampatknya saya kelimpungan ketika ada tetangga memerlukan gas 3 kg, stok di toko sudah habis.

Berjalannya waktu situasi semakin terpuruk, pasokan gas 3 kg dikurangi, yang biasanya mendapatkan jatah 40 tabung / minggu dari sub agen sekarang menjadi 8 tabung / minggu. Jika kami khususkan gas 3 kg untuk produsen roti, bisa-bisa masyarakat makin kesulitan mendapatkan gas. Kondisi itu ternyata tidak hanya kami yang alami, tapi hampir semua toko mengeluhkan hal serupa, dengan begitu harga gas 3 kg naik.

Produsen roti kian kesulitan mencari gas, ini merupakan waktu yang tepat untuk menyarankan mereka menggunakan Bright Gas 5 kg. Saya mencoba mengedukasi mereka jika Bright gas pasokannya aman dan harga stabil, selain itu isi lebih banyak dan pemasangan yang gampang. Dengan begitu produksi roti mereka tidak terganggu oleh hal-hal sepele, seperti kesulitan mendapatkan gas dan kesulitan pemasangan gas.

Setiap kali mereka datang ke toko untuk membeli gas 3 kg, saya coba mengobrol mereka, memberitahu kelebihan Bright Gas 5 kg dan kekurangan gas 3 kg. Lambat laun, akhirnya mereka mau pindah ke Bright Gas 5 kg, dengan saya tawarkan promosi 3 gas 3 kg ditukarkan 1 Bright Gas 5 kg.

Kini bagaimana mengajak masyarakat pengguna gas 3 kg beralih ke Bright Gas 5 kg atau 12 kg. Dengan menggunakan strategi yang sama seperti yang kami lakukan kepada produsen roti. Alhamdulillah ada 5 orang mau meninggalkan gas subsidi dengan begitu gas subsidi dapat dinikmati masyarakat miskin. Walaupun begitu ada juga orang kaya enggan menggunakan gas non-subsidi dan menikmati gas subsidi, mungkin ini dikarenakan mental orang tersebut yang bermasalah.

Jangan Remehkan Uang 2000

Bisnis gas dan Aqua

“Uang 1.000.000 kalau kurang 2.000, ya tidak bernilai 1.000.000”, begitulah kata yang terucap di bibir ku ketika ada seorang teman yang meremehkan uang Rp 2.000. Sebenarnya ini hanya obrolan biasa sambil “guyon”, tapi bisa menjadi bahan renungan buat teman-teman sesama pebisnis jika uang Rp 2.000 bisa membuat mu menjadi kaya raya.

Seperti biasa hari Jum’at toko Singo Sakti libur, dan waktu luang itu akan gunakan untuk menyalurkan hobi dengan bersepeda keliling kota Madiun, sambil menikmati suasana sore yang indah. Ketika melintas jalan Cokroaminoto, dekat pasar Sleko teringat teman yang tinggal di daerah itu, lama tak berjumpa aku pun mampir ke rumahnya untuk melihat kabar saudara seperjuangan waktu SMP.

Singkat cerita kami pun bertemu di tempat kerja dia, tak jauh dari rumahnya. Dia bekerja sebagai kuli angkut pasir, tubuhnya yang besar dan kulitnya yang hitam sepintas menggambarkan dia seorang pekerja keras. Kami pun berbincang-bincang soal kehidupan kami masing-masing pasca lulus SMP dan bertukar kabar teman-teman SMP. Sore yang indah itu diwarnai dengan guyonan, tawa dan segelas es teh manis.

“Kamu kerja apa?”,

“Jualan gas dan aqua”,

“Dulu aku juga ditawari untuk jualan gas, tapi untungnya cuma 2.000 buat apa?”,

“Enak lho jualan gas, barang pasti laku karena sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat”,

“Klo bisnis itu sekali untung 1.000.000, klo gas untung 2000 buat apa?”, lantas aku jawab.

“Uang 1.000.000 kalau kurang 2.000, ya tidak bernilai 1.000.000”

“Hahahaha” kami berdua tertawa bersama.

Sepertinya saya dan teman saya beda pandangan soal bisnis, dia ingin bisnis sekali closing dapat untung “gedhe”, sedangkan saya dapat untung sedikit tapi konsisten siapa hari ada pemasukan. Saya tidak menyalahkan tentang konsep bisnisnya, karena modal bisnis seperti itu juga ada, seperti bisnis jual beli rumah, tanah, ternak Sapi dan lain-lain. Semua itu bisnis kalau sekali untung bisa dapat uang banyak dan tidak ada yang salah.

Hal yang paling aku sayangkan adalah, dia tidak ambil kesempatan ketika ada seorang kawan dia (bukan saya) yang menawari jualan gas di daerahnya, dengan alasan untungnya sedikit. Benarkah bisnis gas untungnya sedikit? Tentu tidak, jika ditekuni untung yang sedikit itu bisa menghasilkan uang jutaan rupiah setiap bulannya.

Jika memang benar bisnis gas uangnya sedikit, lantas kenapa banyak orang berlomba-lomba ingin berjualan gas, bahkan pengajuan menjadi agen gas di luar kuota yang disediakan oleh Pertamina. Itu berarti banyak gula di dalam lingkaran bisnis gas yang ingin diburu oleh semut-semut.

Pebisnis pemula biasanya selalu menganggap remeh uang Rp 2.000, imajinasi liarnya selalu beranggapan buka bisnis langsung dapat uang jutaan. Padahal tidak seperti itu, ada proses dalam sebuah bisnis, proses ini sering dilupakan oleh mereka dan celakanya mereka kurang sabar dalam proseses itu.

Saya ceritakan kondisi saya ketika berjualan gas pertama kali, coba tebak berapa keuntungan saya? Rp 4.000 dalam waktu 1 minggu, bayangkan Rp 4.000 buat beli nasi Pecel aja kurang. Tapi alhamdulillah, bisnis itu aku tekuni dan bersabar, kini setelah 6 bulan berjalan dalam satu hari bisa menghasilkan uang Rp 35.000 – Rp 100.000. Uang itu semua dari jualan gas dan aqua yang cuma untung Rp 2.000 saja. Bahkan saya masih beranggapan keutungan yang saya dapatkan itu masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan pesaing bisnis.

Dalam waktu proses itu, saya selalu berinovasi bagaimana strategi marketing saya, apa yang harus dilakukan ke depan, mendengarkan keluh kesah pelanggan, instropeksi diri dan berlajar management. Awalnya hanya berjualan gas 3 kg, seiring berjalannya waktu jualan Aqua, Cleo, Vit, Bluegaz, Brightgas, Elpiji dan lain-lain. Itu berarti bisnis saya berkembang, karena bisnis yang baik itu adalah bisnis yang berkembang.

Sekarang saya lagi sibuk belajar beriklan berbayar di internet, lewat jejaring sosial Facebook. Hal itu aku lakukan untuk mendapatkan pelanggan baru lewat social media, karena selama ini saya hanya berjualan di wilayah Taman Asri belum mencakup seluruh Madiun. Darimana modal untuk beriklan itu? Ya tentu dari keuntungan berjualan gas, dari mana lagi? Sekarang masihkan kita meremehkan uang Rp 2.000?