Melihat

Indonesia mulai sempit dan bukan tempat yang menarik lagi, walaupun mempunyai alam yang indah dan luas wilayah hampir sama dengan benua eropa tapi tak membuat kita bebas berpendapat dan keramahannya telah luntur.

Di tengah ketidakadilan yang disuguhkan pemerintah, banyak pihak pihak yang disingkiran dan dibungkam agar kekuasaan mereka langgeng. Didukung media yang punya kepentingan, media mencoba menutup tabir keburukan pemerintah, mencoba untuk mencocok hidung rakyat agar mau bergerak untuk mendukung.

Mulai dari raja media Indonesia, MNC Group yang mempunyai 3 stasiun TV swasta, media cetak dan online ikut mendukung pemerintah karena pemilik MNC Group ikut dalam koalisi pemerintah. Metro TV juga demikian, menyanjung pemerintah bagaikan dewa tak punya cacat sama sekali.

Ambil contoh mereka mengangkat berita “Jokowi Menjadi Presiden Populer di Dunia” mengalahkan Trump dan Putin. Mempunyai menteri Sri Mulyani Dinobatkan Sebagai Menkeu Terbaik Dunia. Tapi di tahun April 2019 mempunyai neraca perdaganganya terburuk sejak Indonesia merdeka. Seperti inilah media media bekerja, menjunjung tinggi pemerintah yang punya kinerja buruk.

2 tahun belakangan ini ketika suasana politik memanas, pemerintah mulai menunjukan tanda tanda kena penyakit “abuse of power”.

Karena itu lah banyak pihak menyebutkan Indonesia dilanda krisia kepemimpiman yang akut, pemimpin yang seharusnya menyatukan dan merangkul malah memecah belah dan menyingkirkan pihak yang berbeda sudut pandang. Pemimpin yang seharusnya memimpin malah jadi boneka bawahanya.

Bisa dilihat bagaimana powerful nya Wiranto dan Luhut, membuat Jokowi yang notabene adalah presiden malah menjadi wayang mereka berdua. Jika hal ini terus terjadi, kita akan dimangsa bangsa asing.

Kawanan Singa yang dipimpin Domba akan kalah dengan kawanan domba yang dipimpin Singa. Sehebat dan kuat apapun bangsa Indonesia, kalau pemimpinnya lembek akan dikalahkan oleh negara kecil yang mempunyai pemimpin yang kuat.

Bahkan saking parahnya krisi kepemimpinan di Indonesia, nyawa rakyat yang seharusnya dilindungi dan dijamin hak hak nya malah diabaikan. 600 orang KPPS meninggal dianggap hal biasa, tidak ada pansus dan otopsi untuk menyelidikinya, celakanya pemerintah hanya memberikan jawaban “itu sudah takdir”.

Aksi 22 Mei

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, akan ada massa yang akan datang ke Jakara untuk menuntut keadilan. Hal ini akan membuat potensi kericuhan naik dan membuat ketar ketir para pengusaha, karena setiap ada konflik politik stabilitas ekonomi akan menjadi korban.

Guna mengantisipasi kekacauan pemerintah malah memperburuk keadaan dengan memblokir media sosial, seperti WA, Facebook dan Instagram. Dengan alasan untuk meminimalisir berita hoax, sikap pemerintah seperti itu malah membuat kecurigaan, bisa jadi pemerintah malah membuat berita hoax sendiri dan tidak ada yang bisa membantah karena tertutupnya informasi dari pihak lain.

Satu hari pasca pemerintah memblokir modia sosial sudah membuat perekonomian masyarakat kacau. Pedagang yang memanfaatkan sosial media marketing harus mengalami penurunan penjualan, pedagang pulsa tidak dapat berjualan karena WA diblokir.

Saya sendiri merasakan kemarin, 22 Mei, penjualan gas dan air mineral saya nol besar. Karena kebanyakan pelanggan menggunakan WA dibanding SMS atau telepon. Bahkan kemarin ada pelanggan malam-malam kehabisan kuota listrik dan tidak bisa membeli karena trouble. Itu hanya sebagian contoh kekacauan kecil akibat kebijakan bodoh pemerintah.

Proyek OBOR

Menurut peneliti Jepang, Masako Kuranishi, dia mengatakan potensi konflik jika proyek OBOR terealisasi sangat besar karena akan mengorbankan banyak masyarakat, terutama pribumi. Jika konflik itu pecah dan terjadi kerusuhan. Yang rugi bukan hanya masyarakat pribumi, tapi keturunan Cina akan akan menjadi korban. Entah mereka (keturunan Cina) mendukung atau tidak mendukung proyek OBOR akan menjadi korban terlebih dahulu dari pada warga Cina asli.

Sri Langka, Malaysia dan Pakistan yang lebih dahulu terkena debt trap akibat proyek obor telah memulai mengurangi peran dalam proyek itu. Kerja sama yang telah dibentuk ternyata tidak seimbang dan lebih menguntungkan Cina. Contoh proyek ambisius Sri Langka dengan membangun pelabuhan Hambatota yang sekarang telah dikuasai Cina selama 99 tahun, karena pemerintah Pakistan tidak sanggup membayar hutang kepada Cina.

Guna mengamankan infrastruktur yang telah diambil dan perusahaan-perusahaan, pemerintah Cina menempatkan pensiunan prajurit Cina. Hal itu bisa dilihat di negara Zimbabwe, ada militer Cina yang membangun markas militer di Harare.

Sidang Sengketa Pilpres

Buah dari kecurangan kali ini adalah sidang sengketa pilpres, dilakukan di Makamah Konstitusi untuk menentukan apakah pilpres 2019 penuh kecurangan atau tidak.

Pihak 02 mendatangkan saksi ahli yang sangat paham akan digital forensik. Beliau menjelaskan bagaimana scan data C1 dirubah dari aslinya dan data statistik lainnya. Tapi kubu 01 mempertanyakan wewenang atau otoritas saksi ahli. Menurutnya saksi ahli tidak punya otoritas untuk melakukan digital audit forensik.

Ketika kita tahu suatu barang itu palsu, apakah kita perlu pihak yang mempunyai otoritas untuk mengklaim barang itu asli atau palsu?

Advertisements

0 Responses to “Melihat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.