Archive for February, 2019

Video Belajar Memanah Dasar

Artikel ini tidak ada hubungannya dengan belajar dasar memenah, cuma sekedar contoh bagaimana membuat aplikasi Android untuk edukasi panahan. Itu adalah sebuah skripsi yang sedang dikerjakan oleh teman saya yang ada di Batu. Jauh-jauh datang ke Madiun (tempat tinggal ku) untuk bertanya bagaiamna membuat aplikasi itu.

Saya sempat kaget ketika dia mengerjakan skripsi aplikasi Android, padahal setahu saya dia kuliah dalam jurusan olahraga. Setelah dijelaskan panjang lebar, ternyata dia fokus pada eLearning dalam bidang olahraga. Dimana membuat edukasi tentang olahraga yang saat ini menuju revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan bergabungnya bidang teknilogi, baik itu fisika, elektrotik dan digital. Selain itu ciri khas dari industri ini adalah hemat biaya, tempat dan waktu. Contoh sederhana seperti aplikasi Gojek, pelanggan bisa memesan ojek dan makanan dengan harga yang murah, tidak perlu ke pangkalan ojek dan memangkas waktu mencari abang ojek.

Diharapkan dengan terbentuknya aplikasi eLearning panahan, pemula bisa belajar dengan murah dan efisien. Dalam aplikasi itu akan disediakan tutorial-tutorial dasar dalam memanah dalam bentuk video. Kenapa video? Keputusan ini dipilih karena melihat masyarakat yang suka nonton video dari pada membaca artikel, diharapkan akan lebih memudahkan untuk belajar. Toh saat ini masyarakat lagi demam YouTube, mereka tidak bisa dipisahkan darinya.

Tidak hanya video saya yang akan dimuat dalam aplikasi nantinya, tapi artikel yang terkait dengan panahan akan dimuat juga. Bisa jadi berita olahraga panahan atau berita atlet-atlet panah yang terkenal, dengan begitu diharapkan banyaknya informasi yang didapatkan, kepopuleran olahraga panah akan meningkat.

Apa kedepan yang akan dikembangkan dalam aplikasi eLearning?

Menarik,

Advertisements

Sekolah Tempat Belajar Game

Bolos untuk Main Game

Pernahkah anda mendengar pelajar jarang masuk sekolah, tidak naik kelas bahkan sampai D.O karena kecandungan game?

Saya pribadi pun pernah dicurhati ibu-ibu yang bercerita anaknya tidak mau kuliah karena keasikan main game online, entah game apa saya tidak tahu. Ibu itu kebingungan bagaimana membujuk anaknya untuk mau kembali ke kuliah agar segera menyelesaikan gelar S1, kebetulan teman-teman sudah lulus lebih dulu.

Sekolah eSport

Saya pun kebingungan mencari solusinya, saya gamer tapi tingkat kecanduannya tidak sampai level seperti itu. Saya bisa membagai waktu mana waktu belajar, kerja dan nge game.

Saya hanya bisa menyarankan kepada ibu itu agar anaknya tidak meneruskan kuliahnya, lho kok gitu? Karena dia sudah tidak tertarik dengan kuliah, bisa jadi dia tidak menemukan manfaat kuliah dan menemukan sesuatu di dunia game dia, atau bisa jadi lebih buruk dia benar-benar kecanduan dan butuh terapi.

Tapi kalau pemerintah mau peduli dengan kasus seperti di atas, ada solusi yang bisa diambil dari Korea dan diterapkan di Indonesia.

Sekolah eSport untuk Belajar

Kenapa pemerintah harus ikut campur tangan? Karena kasus seperti itu tidak hanya menimpa satu atau dua orang saja, tapi banyak disetiap daerah ada.

Sayangnya penanganan di Indonesia terhadap para gamer, mengesankan gamer seperti para kriminal. Ada anak sekolah di rental PS dan warnet ditangkap, digelandang ke kantor polisi dan dipanggil orang tuanya. Bahkan ada yang lebih buruk, setelah ditangkap disuruh pulang dengan jalan kaki padahal rumahnya jauh.

Hal seperti itukan tidak memberikan solusi yang baik, justru membuat anak mendapat citra buruk di masyarakat. “Itu Fulan habis ditangkap polisi” gosip seperti ini akan tersebar di lingkungannya.

Kembali ke solusi yang bisa kita contoh dari Korea. Pemerintah Korea membuat sekolah khusus eSport, dimana selain mendapatkan mata pelajaran umum juga mendapatkan pelajaran soal eSport, baik dalam hal mekanik dan strategi semua dipelajari.

Dengan dibukanya sekolah eSport alih-alih anak-anak yang suka bolos untuk main game, justru lebih betah di sekolah karena ada mata pelajaran yang sesuai dengan bidang minatnya. Mereka yang biasanya bolos dan menghabiskan waktunya 5 jam sehari untuk main game di warnet, dengan masuk ke sekolah eSport mereka lebih terarah dan bisa belajar soal eSport 5 jam dan ditambah mata pelajaran wajib.

Kita bisa lihat di event game internasional, bagaimana dominasi Korea. Sampai-sampai setiap kompetisi pasti ada pro player dari Korea.

Pemerintah Jangan Campur Tangan

Bukan liga eSport professional jika pemerintah ikut campur tangan di dalamnya. Karena dalam dunia professional, para pro player adalah orang yang digaji ketrampilannya untuk mampu berkompetisi.

Jika pemerintah ikut di dalamnya, mereka tidak bisa lagi disebut professional atau lebih tepatnya PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena di biayai oleh negara. Jika hal ini terjadi terus menerus, penyelenggara tidak akan kreatif untuk mencari sponsor dan menjadi lintah penyedot anggaran APBN.

LOL Esport

Dalam dunia liga eSport professional hanya diikuti beberapa tim, tidak lebih dari 10 tim, dan dalam setiap tim rata-rata terdapat 6 pro player. Bayangkan uang yang digelontotkan pemerintah jika ikut dalam membuat kompetisi hanya dinikmati kurang lebih 60 orang, apakah ini adil?

Selain itu, jika pemerintah ambil adil dalam kompetisi. Hal itu bisa dimanfaatkan sebagai ajang kampanye mereka untuk meraih kekuasaan. Bayangkan jika ada ajang eSport bertaraf nasional terpampang foto politikus, apa ajang itu akan menarik?

Hal yang dilakukan pemerintah jika mau mengembangkan eSport, membuat kompetisi dikalangan non professional. Misalnya dikalangan pelajar, ambil contoh piala kemempora dimana pesertanya di ambil dari sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Saya sangat mengapresiasi itu walaupun masih banyak yang perlu dikritisi karena masih terkesan sebagai ajang kampanye salah satu calon presiden.

Sekolah eSport Indonesia

Salah satu dari beberapa sekolah yang mempunyai kurikulum eSport adalah SMA 1 PSKD, sekolah yang punya mata lajaran untuk mengedukasi siswanya untuk siap terjun di dunia eSport.

Kurikulum eSport meliputi game-game yang populer seperti Dota, Overwatch dan CS GO. Selain itu perkembangaan mobile game yang cukup signifikan, ditambah game Mobile Legend dan AoV.

Sekolah juga menerapkan standar harus mendapatkan nilai rapor rata-rata 80. Ini penting, agar siswa tetap fokus dalam tujuannya yaitu belajar, bukan bersenang-senang main game walaupun sekolahnya ada kurikulum eSport.

Perlu diketahui setelah lulus dari sekolah ini siswa tidak harus menjadi pro player, karena di Indonesia saja bagaimana kerasnya kompetisi di sana.

Banyak diluar sana pekerjaan yang masih berhubungan dengan game. Seperti caster, analisis game, youtuber game dan lain-lain.

Bisa jadi setelah lulus sekolah melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, mengambil kuliah jurusan informatika. Dengan modal passion terhadap game yang lebih besar, bisa membuat game sendiri atau bekerja di perusahaan game.

Kalau mau jadi pengusaha, bisa juga membangun bisnis game center yang setiap bulan mengadakan kompetisi atau hanya sekedar warung kopi wifi. Dengan mengandalkan komunitas yang telah terbentuk saat sekolah, hal ini bisa menjadi nilai lebih memulai bisnis.

***

Banyak hal yang masih belum digali dalam dunia eSport, tulisan ini hanya sekedar pengingat bagimana seharusnya masyarakat melihat gamer lebih positif. Semoga dunia eSport Indonesia lebih baik dan tidak dijadikan alat politik.


Blog Stats

  • 294,515 hits
Advertisements