Mengedukasi Masyarakat Menggunakan Gas Non-Subsidi

Rencana pemerintah untuk mengurangi subsidi tidak main-main, terutama di sektor migas. Pemerintah melalui Pertamina tengah getol menekan subsidi yang terus membengkak dikarenakan tidak tepat sasaran, terutama gas 3 kg. Selama ini penjualan gas 3 kg menggunakan sistem terbuka, dimana setiap orang bisa membelinya. Padahal gas 3 kg diperuntukan bagi masyarakat miskin pasca peralihan minyak ke gas. Tapi sistem itu malah membuat orang-orang kaya menikmatinya dan mengeksploitas penggunaan gas untuk bisnis dan konsumsi di luar peruntukannya, seperti penghangat air mandi.

Untuk mengatasi masalah itu, beberapa bulan lalu Pertamina meluncurkan Bright Gas 5,5 Kg untuk mengajak masyarakat beralih ke gas non-subsidi. Di beberapa media Bright Gas dikabarkan disambut positif oleh masyarakat, tapi kenyataan di lapangan yang saya alami sendiri, masyarakat masih enggan untuk beralih ke gas non-subsidi.

Perlu langkah strategis agar masyarakat mau menggunakan gas non-subsidi, selain Pertamina yang harus gencar mempromosikan Bright Gas di media televisi, agen dan penjual harus pro-aktif mengajak masyarakat menanggalkan gas 3 kg. Langkah itu juga saya lakukan, walaupun awalnya berat banyak penolakan dikarena harganya yang relatif mahal.

Penjualan memang tidak selalu sesuai dengan harapan, terutama produk baru yang baru dikenal masyarakat. Maka saya mencoba untuk mengedukasi mereka beralih ke Bright Gas 5 kg. Kelangkaan gas 3 kg dan ketidakstabilan harga menjadi senjata utama ku untuk membujuk mereka. Di Madiun, gas 3 kg mulai sulit didapatkan, walaupun pasokan dari Pertamina lancar tapi sepertinya kebutuhan gas 3 kg jauh lebih dari pasokannya. Maka saya mengajak masyarakat untuk beralih ke Bright Gas 5 kg, dengan jaminan stok gas yang aman dan harga yang stabil.

Sasaran utama saya adalah produsen roti, kebetulan di dekat toko ku ada 2 produsen roti. Sebelum Bright Gas 5 kg dirilis ke pasaran, mereka menggunakan gas 3 kg untuk produksi. Dalam 1 minggu mereka bisa menghabiskan 6 tabung gas 3 kg, sehingga perlu menyiapkan minimal 12 tabung 3 kg agar produksi roti mereka tetap berjalan lancar. Dampatknya saya kelimpungan ketika ada tetangga memerlukan gas 3 kg, stok di toko sudah habis.

Berjalannya waktu situasi semakin terpuruk, pasokan gas 3 kg dikurangi, yang biasanya mendapatkan jatah 40 tabung / minggu dari sub agen sekarang menjadi 8 tabung / minggu. Jika kami khususkan gas 3 kg untuk produsen roti, bisa-bisa masyarakat makin kesulitan mendapatkan gas. Kondisi itu ternyata tidak hanya kami yang alami, tapi hampir semua toko mengeluhkan hal serupa, dengan begitu harga gas 3 kg naik.

Produsen roti kian kesulitan mencari gas, ini merupakan waktu yang tepat untuk menyarankan mereka menggunakan Bright Gas 5 kg. Saya mencoba mengedukasi mereka jika Bright gas pasokannya aman dan harga stabil, selain itu isi lebih banyak dan pemasangan yang gampang. Dengan begitu produksi roti mereka tidak terganggu oleh hal-hal sepele, seperti kesulitan mendapatkan gas dan kesulitan pemasangan gas.

Setiap kali mereka datang ke toko untuk membeli gas 3 kg, saya coba mengobrol mereka, memberitahu kelebihan Bright Gas 5 kg dan kekurangan gas 3 kg. Lambat laun, akhirnya mereka mau pindah ke Bright Gas 5 kg, dengan saya tawarkan promosi 3 gas 3 kg ditukarkan 1 Bright Gas 5 kg.

Kini bagaimana mengajak masyarakat pengguna gas 3 kg beralih ke Bright Gas 5 kg atau 12 kg. Dengan menggunakan strategi yang sama seperti yang kami lakukan kepada produsen roti. Alhamdulillah ada 5 orang mau meninggalkan gas subsidi dengan begitu gas subsidi dapat dinikmati masyarakat miskin. Walaupun begitu ada juga orang kaya enggan menggunakan gas non-subsidi dan menikmati gas subsidi, mungkin ini dikarenakan mental orang tersebut yang bermasalah.

Advertisements

0 Responses to “Mengedukasi Masyarakat Menggunakan Gas Non-Subsidi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s