Asiknya Membaca Buku di Perpustakaan Madiun

IMG_20151215_142831

Siang ini, di tengah teriknya sinar Matahari kota Madiun, saya ngebet ingin ke Perpustakaan Madiun untuk mencari buku tentang ternak ayam kampung. Kebetulan saya lagi fokus ternak ayam kampung dan membutuhkan informasi yang lengkap soal cara ternak ayam kampung. Karena harga buku semakin mahal, bisa mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu, lebih baik datang ke Perpustakaan Madiun untuk membaca koleksi buku di sana.

Tak jauh dari tempat tinggal ku, sekitar kurang lebih 2 km jaraknya. Saya bersama adik keponakan bergegas mengendarai motor menuju Perpustakaan. Perpustakaan Madiun berlokasi di jalan Agus Salim, menggunakan bangunan bekas SMA 6 yang sekarang telah pindah di bekas SMA 3.

Bangunan bekas sekolahan itu disulap oleh pemerintah daerah menjadi perpustakaan umum yang luas. Dibandingkan lokasi Perpustakaan Madiun yang lama di belakang stadion, lokasi baru ini lebih luas dan nyaman.

Halaman depan Perpustakaan dijadikan tempat parkir motor dan mobil perpustakaan keliling. Sayang tempat parkirnya tak begitu luas, hanya cukup untuk 10 motor. Jika ada pengunjung Perpustakaan naik mobil pasti kesulitan untuk parkir, karena memang tidak ada tempatnya,. Kalaupun ada, jika mobil perpustakaan lagi keluar karena bisa mengambil tempat parkir mobil perpustakaan, itu pun cuma 3 tempat.

Siang hari itu memang jam anak SMP 2 pulang sekolah, dan saya mendapati perpustakaan itu banyak anak-anak SMP yang mengunjungi Perpustakaan. Tidak kaget karena lokasi Perpustakaan Madiun berdekatan dengan sekolah SMP 2 Madiun. Mereka (anak-anak SMP) di sana ada yang membaca, menghabiskan waktu bersama teman, internetan, nunggu orang tua jemput bahkan tidur-tiduran sambil baca di ruang atas. Kebetulan ruang Perpustakaan Madiun ber AC jadi enak buat santai sambil membaca buku.

Sesampainya di Perpustakaan langsung disambut dengan gelaran foto-foto lama tentang sejarah kota Madiun. Hampir setiap dindingnya dipasang foto-foto lama, mulai dari tentara Belanda berbaris, banjir Madiun dan lain-lain. Jika ingin melihat foto Madiun tempoe doloe silahkan mampir ke Perpustakaan Madiun.

Di dalam ruangan perpustakaan hawa dingin langsung menyerang, selain ruangannya yang luas dan atap yang tinggi membuat suasana di dalam berbeda 180 derajat dibandingkan dengan cuaca Madiun yang panas karena badai Elnino. Ditambah dengan ruang yang ber-AC menambah nikmat suasana.

Di dalam langsung disambut dengan petugas Perpustakaan, seperti kantor pemerintahan pada umumnya, jangan harap ada petugas cantik seperti di bank, karena di sini semuanya pria dan tua-tua.

Untuk meminjam buku diwajiban menjadi anggota, tidak dipungut biaya tapi syaratnya harus membawa foto kopi KTP. Sedikit kritik, sebenarnya mendaftar menjadi anggota Perpustakaan tidak usah membawa foto kopi KTP, cukup KTP saja. Karena apa? Setelah saya memberikan foto kopi KTP itu, ternyata hanya untuk menginput data ke komputer dan setelah itu dikembalikan lagi, konyolkan? Iya kalau foto kopian KTP itu dimasukan ke arsip tidak masalah, tapi ini dikembalikan lagi.

Perpustakaan Madiun sudah cukup moderen, kenapa? Karena sudah memberlakukan sistem komputerisasi. Anggota baru daftar mendapatkan kartu anggota Perpustakaan, untuk masuk cukup scan barcode pada kartu anggota langsung masuk tanpa input data lagi. Saran saya lebih baik tidak usah pakai foto kopi KTP lagi deh, karena hanya akan membuat ribet orang yang ingin mendaftar jadi anggota Perputakaan.

Oh ya proses pembuatakan kartu anggota Perpustakaan cepat kok, tidak sampai 15 menit sudah jadi. Sebenarnya 5 menit cukup, karena petugasnya sudah tua dan gaptek jadi lama.

Setelah mendaftar dan mendapatkan kartu anggota, saja menuju ke barisan rak-rak buku, dimana tersusun rapi buku-buku koleksi Perpustakaan Madiun. Setiap buku dikelompokan sesuai dengan kategorinya, ada sastra, pertanian, komputer, sejarah, agama, kesehatan dan lain-lain.

Sayang pengelompokan ini kurang maksimal, saya masih mendapati buku bertema kesehatan di rak buku komputer. Mungkin karena banyak oknum-oknum yang mengembalikan buku bacaanya tidak pada tempatnya lagi. Lebih baik buku yang telah diambil dalam rak, tidak usah dimasukan ke dalam rak lagi, lebih baik ditaruh di meja, biar petugas yang mengembalikannya lagi karena mereka lebih tau tempatnya.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya mencari buku tentang ternak Ayam harus kesulitan karena tidak menemukan rak buku khusus perternakan, malah tidak ada. Setelah saya menelursuri setiap rak, akhirnya saya menemukan buku “Panduan Lengkap Ayam” karya Prof. Iman Rahayu di rak menajemen. Jika saja penatakaan buku lebih rapa lagi mungkin tak butuh waktu lama untuk mendapatkan buku yang dicari.

Saya memberikan nilai plus kepada pihak Perpustakaan karena koleksi bukunya masih bagus walaupun buku lama. Setiap buku diberikan sampul plastik terlihat rapi dan baru, mungkin karena itulah koleksi buku Perpustakaan Madiun terawat dengan baik.

Terdapat meja dan kursi untuk membaca, kursinya empuk, meja-meja kecil memuat 2 orang ditata dengan baik. Tempat terbaik ku adalah di pojok selatan dekat rak sejarah karena paling adem, tepat di bawah AC. Jika tidak suka membaca sambil duduk di depan meja, silakan ke ruang atas. Di ruang atas terdapat ruangan yang cukup lupas dengan berlapiskan karpet yang bisa dipakai untuk membaca sambil tidur-tiduran. Tapi koleksi buku di ruang atas terbatas, tidak seperti di ruang bawah.

Tak usah khawatir soal koneksi Internet, Perpustakaan Madiun menyediakan internet gratis. Boleh membawa laptop ke dalam untuk internetan sepuas mu. Banyak mahasiswa yang membawa laptop untuk menulis, mungkin dia sedang mengerjakan skripsi. Tidak punya laptop? Tak apa, di sana juga tersedia 4 atau 5 komputer yang bisa dipakai untuk internetan. Biasanya anak-anak SMP memanfaatkan internet itu untuk nonton Youtube atau sekedar membuka Facebook.

Bagi pengunjung baru, perhatikanlah tata tertib yang ada di Perpustakaan Madiun karena itu untuk kebaikan setiap kita sendiri. Juga jangan ramai di perpustakaan agar tidak mengganggu orang lain yang sedang membaca. Pastikan buku yang anda pinjam di rawat dan dikembalikan, itu sudah hak dan kewajiban mu. Jadilah orang beradab di Perpustakaan demi menjaga Perpustakaan Madiun tetap eksis, akan merugi kita jika Perpustakaan yang telah dibangun ini hilang. Seperti yang kita ketahui di Indonesia, orang minat membaca sedikit dan Perpustakaan juga kurang lengkap jadi harap dijaga Perpustakaan satu-satunya di kota Madiun ini.

Oh ya dibandingkan dengan Perpustakaan Malang dan UMM, Perpustakaan Madiun kalah jauh, semoga Pemerintah Madiun memberikan perhatian lebih terhadap Perpustakaan Madiun sehingga bisa menjadi perpustakaan terbesar di Indonesia. Aamiin.

Advertisements

0 Responses to “Asiknya Membaca Buku di Perpustakaan Madiun”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s