Menyembuhkan Sakit Telinga seperti Tertusuk-tusuk

telinga

1 bulan yang lalu tiba-tiba telinga ku sakit, entah karena apa, tapi lambat laun pendengaran mulai berkurang seperti ada air di dalam telinga sebelah kiri. Padahal telinga ku tidak kemasukan air, ini sangat aneh.

Semasa kuliah, awal-awal masuk kuliah aku pernah mengalami sakit telinga berbeda dengan sekarang. Waktu itu ketika tidur siang tiba-tiba telinga ku mendengar suara genderang perang. Dung dung dung, keras sekali dan tiba-tiba rasa sakit menusuk muncul, sontak aku berpikir ada sesuatu yang tak beres di telinga ku, seperti ada sesuatu berjalan di gendang telinga.

Takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, aku bergegas ke Puskesmas terdekat dan mendapatkan perawatan. Ternyata ada semut hitam di telinga ku dan berhasil dikeluarkan.

Tapi sakit telinga ini berbeda dengan kasus dahalu, ada sesuatu yang tak beres.

Awal dan dokter THT pemarah

Saat itu seperti biasanya aku membersihkan telinga dengan cotton bad, berharap telinga bersih dari kotoran. Aku menikmati setiap kali cotton bad masuk ke telinga seperti digelitik. Tiba-tiba, deb telinga kiri ku pendengarannya langsung berkurang.

Aku pikir ini bukan masalah mungkin besok sembuh, eh ternyata esoknya malah tambah parah, pendengaran menurun drastis dan sakit seperti ditusuk-tusuk.

Atas saran ibu, aku disuruh periksa ke dokter THT di Madiun. Jam 7 pagi aku bergegas ke dokter THT di jalan Diponegoro. Tidak seperti dokter umum, dokter THT sepi dari pasien jadi ku tak perlu menunggu lama untuk periksa telinga ku.

Setelah masuk aku ditanyai apa keluhan ku, aku jawab “Pendengaran telinga kiri kurang terdengar”. Setelah itu aku disuruh ke kursi pemeriksaan untuk diperiksa. Dan dokter itu melakukan uji pendengaran (entah apa namanya), alat seperti garpu dipukul terus berbunyi ting dan terdengar suara getarannya.

Uji coba pertama terdengar dengan jelas, diujian ke dua tidak terdengar jelas. Eh tiba-tiba dokter marah karena jawabannya ku berbeda dengan sebelumnya. Mungkin kurang puas dengan jawaban ku dokter itu malah menyuruh ibu ku untuk menanyaiku. Lho dokternya siapa? Apa kau hendak melecehkan ku? Aku benar-benar menjawab dengan jujur malah dibentak-bentak.

Ini bukan pertama kalinya ku dimarahi oleh dokter itu, dulu waktu tenggorakan ku ketulangan, aku memeriksakannya juga dimarah-marahi.

Cih makin jengkel aku dengan dokter ini, cukup ini saja aku periksa ke tempat mu. Gak bakalan aku ke sini lagi, sudah bayarnya mahal, kerjanya gak jelas. Kamu dokter atau dokter gadungan?

Ganti dokter THT

Setelah periksa ke dokter pemarah itu, aku pergi ke Surabaya untuk menjalankan usaha jual beli beras. Kira-kira selama 2 minggu, pendengaran samar-samar.

Sepulangnya dari Surabaya, aku membersihkan telinga ku lagi dan lagi-lagi terdengar suara deb dan telinga kiri ku tidak bisa mendengar suara lagi. Aku pun ketakutan berharap telinga ku tidak apa-apa, karena yang paling aku khwatirkan adalah aku tidak bisa mendengar suara adzan lagi. Jika sulit mendengar suara adzan pasti kesulitan untuk menentukan waktu kapan sholat.

Karena aku sudah terlalu benci sama dokter THT pemarah itu, akhirnya ku putuskan untuk mencari dokter THT yang lain. Aku mencari informasi dari kawan dan internet, disarankan untuk ke rumah sakti Panti Bagija. Di RS itu terdapat dokter THT, yang lebih penting yang praktek bukan dokter pemarah itu.

Selasa jam 7 pagi aku berangkat ke RS Bagija, setelah mendaftar dan mengantri cukup lama sekitar kurang lebih 1 jam (menyebalkan juga sih), akhirnya aku bisa ketemu dokter THT itu.

Aku mendapati dokter THT-nya seorang wanita, dengan lemah lembut dia bertanya apa keluhan ku. Aku menjawab “Telinga kiri ku tidak bisa mendengar, seperti ada cairannya di dalam yang mengganggu pendengaran ku dan ada rasa sakit seperti ditusuk-tusuk”.

Dokter THT itu langsung memeriksa telinga ku, dengan senter di kepalanya dia melihat apa yang ada di dalam telinga ku. Setelah melihat dalam telinga, dia bertanya “Apa kemarin kemasukan air?”, aku jawab “Tidak (padahal iya)”.

Dia melanjutkan lagi pertanyannya, “Apa kemarin bersih-bersih telinga?”, aku jawab “Iya, pakai cotton bad”. Lantas bu dokter menjawab “Dinding telinga mu merah, seperti radang, tapi alhamdulillah gendang telinga mu tidak apa-apa”. “Radang itu membuat kotoran telinga (kepek) menjadi cair dan menyumbat telinga mu, serta rasa sakit seperti ditusuk-tusuk akibat dari diding telinga mu yang bengkak. Kemungkinan terluka akibat kamu membersihkan telinga pakai cotton bad.”

“Kali ini telinga mu aku bersihkan, kalau sakit jangan bergerak ditahan aja dan bilang.”

Setelah dibersihkan langsung pendengaran ku kembali normal seperti sedia kala, tidak diragukan lagi. Sebelum pulang aku mendapatkan nasehat, mulai nanti dan seterusnya jangan membersihkan telinga menggunakan cotton bad. Apa lagi 2 minggu ini karena diding telinga masih rawan.

Aku mendapatkan 2 resep obat, pil. Awalnya aku minta obat tetes, karena aku pikir yang sakit telinga kok yang diobati masuk ke perut. Dokter itu pun menjelaskan bahwa saya tidak memerlukan obat tetes, justru obat tetes akan memperparah sakit telinga mu.

Komunikasi antar dokter

Saya mencoba membandingkan 2 dokter THT, yang satu pemarah yang satu kalem dan tenang. Dokter THT pemarah malah membuat masalah menjadi lebih masalah, karena komunikasi antara dokter dan pasien tidak terhubung, seperti ada jurang dalam yang memisahkan keduanya. Sehingga membuat pesan yang ingin disampaikan dokter ke pasien terhalang oleh situasi yang tidak nyaman.

Dibandingkan dokter yang THT yang kedua, komunikasi antara dokter dan pasien tercapai sehingga pasien menangkap dengan jelas apa yang dibutuhkan untuk sembuh. Dengan sikap yang ramah dan santun dari dokter, informasi jadi cepat ditangkap dan setiap saran dari dokter diterima oleh pasien dan dilaksanakan.

Sejak kasus itu, saya beranggapan dokter tidak bisa menyembuhkan, justru yang menyembuhkan adalah diri kita sendiri. Karena waktu berobat ke dokter kurang lebih 10 menit, sedangkan 23 jam 50 menit milik kita. Sehingga kita perlu mendengarkan semua saran dari dokter untuk kesembuhan kita. Manfaatkan dokter untuk komunikasi dan bertanya bagaimana cara saya sembuh, apa yang harus saya lakukan dan apa yang tidak boleh saya lakukan.

Dokter pertama hanya memberikan ku resep dan tidak memberitahukan ku apa yang harus dilakukan agar sembuh, tentu saya sebagai pasien bingung, apa dengan meminum obat itu pendengaranku jadi normal? Dan itu tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Dokter kedua menjelaskan A-Z sehingga aku paham dan sekarang, alhamdulillah telinga ku kembali normal. šŸ™‚

Advertisements

0 Responses to “Menyembuhkan Sakit Telinga seperti Tertusuk-tusuk”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s