Archive for November, 2015

Benarkah Demokrasi bisa menghancurkan Islamic State

Dalam sebuah halaman media online berbahasa Inggris terkemuka di Indonesia mempublish artikel opini pembaca. Dalam artikel itu, penulis mencoba menjelaskan bagaimana mengalahkan IS (Islamic State) atau yang lebih dikenal dengan ISIS (walaupun ISIS udah bubar 2013 lalu).

Dalam paragraf pertama penulis mengutuk aksi yang dilakukan oleh IS terhadap Prancis yang berhasil membunuh 200 orang dalam 1 aksi serangan. Walaupun begitu apa yang dilakuk oleh IS terhadap Peracis adalah hukum sebab akibat. Dari yang saya baca di Twitter, pendukung IS mengatakan aksi itu merupakan aksi balasan karena Perancis ikut terlibat dalam pasukan koalisi Amerika dalam membombardir wilayah yang dikuasai.

Dampak yang paling nyata dalam serangan pasukan koalisi adalah banyak warga sipil, terutama di wilayah IS, tewas dengan mengenaskan. Tubuh mereka terbakar, terkoyak, hancur dan remuk tertimbun reruntuhan bangunan. Dan aksi yang dilakukan oleh pasukan koalisi sudah dimulai sejak 1 tahun yang lalu dan sampai sekarang masih berlanjut. Pantas saja jika IS melakukan aksi balasan dengan menyusupkan tentara mereka untuk membalas aksi yang dilakukan oleh Prancis.

Dalam sebuah video berjudul “Di Balik Tangis” berdurasi 7 menit, entah rilisan resmi dari IS atau bukan, terdapat penjelasan-penjelasan kenapa Prancis menjadi target utama. Berikut ini screenshot yang saya dapatkan dari video itu.

vlcsnap-2015-11-24-09h34m54s121

vlcsnap-2015-11-24-09h35m23s022

vlcsnap-2015-11-24-09h37m12s229

vlcsnap-2015-11-24-09h37m31s232

vlcsnap-2015-11-24-09h37m39s262

vlcsnap-2015-11-24-09h35m45s725

vlcsnap-2015-11-24-09h36m00s440

vlcsnap-2015-11-24-09h36m12s385

vlcsnap-2015-11-24-09h36m55s017

vlcsnap-2015-11-24-09h38m05s993

vlcsnap-2015-11-24-09h39m03s010

Kembali ke tulisan opini, dalam paragraf dua, penulis mempertanyakan jika Bashar al-Assad mundur dari jabatan presiden semua akan selesai. Dan menjelaskan bahwa rakyat Suriah menginginkan demokrasi dengan berdemo ketika terjadi Arab Spring dan menuntut mundur presiden Bashar al-Assad.

Paragraf tiga dan empat mengatakan jika Turki dan negara-negara timur tengah mempersenjatai pasukan pemberontak untuk melawan pemerintah Suriah. Dia memang benar, beberapa negara arab mempersenjatai pasukan pemberontak untuk melawan pemerintah Suriah dan melawan IS. Salah satu pemberontak terkenal dan didanai oleh negara timur tengah adalah Islamic Front yang menguasai provinsi Idlib.

Penulis menambahkan Turki bukan negara demokrasi karena menekan media dan memperlakukan Kurdi sebagai musuh. Padahal sebelum perang Suriah pecah di tahun 2011 Turki sering kali berperang melawan milisi-milisi Kurdi (PKK) yang menginginkan mendirikan negara yang berideologikan komunis. Selain itu PKK sering membuat keributan di wilayah Turki, sehingga fokus utama mereka adalah mengalahkan musuh lama agar tidak membuat onar di wilayah Turki.

Dalam paragraf lima penulis mengutip pernyataan Tony Blair jika perang Iraq membantu menciptakan Islamic State. Kedatangan Amerika menginvasi Iraq setelah Afganistan atas dasar mempunyai senjata pemusnah masalah merupakan titik awal terbentuknya kelompok jihad pimpinan Abu Musab al-Zarqawi yang merupakan cikal bakal ISI (Islamic State of Iraq) dan sekarang menjadi IS.

Selanjutnya dalam tidak keyakinananya penulis mengatakan jika kemungkinan negara-negara timur tengah memberikan pasokan senjata ke pemberontak juga memberikan senjata ke IS. Itu sedikit benar, yang jelas IS mendapatkan senjata dari harta rampasan perang melawan musuh-musuhnya. Selain itu senjata dari pemberontak sering kali dijual kembali ke IS, oleh karena itu IS sering bilang jika pasukan pemberontak adalah recommended seller.

Advertisements

Menyembuhkan Sakit Telinga seperti Tertusuk-tusuk

telinga

1 bulan yang lalu tiba-tiba telinga ku sakit, entah karena apa, tapi lambat laun pendengaran mulai berkurang seperti ada air di dalam telinga sebelah kiri. Padahal telinga ku tidak kemasukan air, ini sangat aneh.

Semasa kuliah, awal-awal masuk kuliah aku pernah mengalami sakit telinga berbeda dengan sekarang. Waktu itu ketika tidur siang tiba-tiba telinga ku mendengar suara genderang perang. Dung dung dung, keras sekali dan tiba-tiba rasa sakit menusuk muncul, sontak aku berpikir ada sesuatu yang tak beres di telinga ku, seperti ada sesuatu berjalan di gendang telinga.

Takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, aku bergegas ke Puskesmas terdekat dan mendapatkan perawatan. Ternyata ada semut hitam di telinga ku dan berhasil dikeluarkan.

Tapi sakit telinga ini berbeda dengan kasus dahalu, ada sesuatu yang tak beres.

Awal dan dokter THT pemarah

Saat itu seperti biasanya aku membersihkan telinga dengan cotton bad, berharap telinga bersih dari kotoran. Aku menikmati setiap kali cotton bad masuk ke telinga seperti digelitik. Tiba-tiba, deb telinga kiri ku pendengarannya langsung berkurang.

Aku pikir ini bukan masalah mungkin besok sembuh, eh ternyata esoknya malah tambah parah, pendengaran menurun drastis dan sakit seperti ditusuk-tusuk.

Atas saran ibu, aku disuruh periksa ke dokter THT di Madiun. Jam 7 pagi aku bergegas ke dokter THT di jalan Diponegoro. Tidak seperti dokter umum, dokter THT sepi dari pasien jadi ku tak perlu menunggu lama untuk periksa telinga ku.

Setelah masuk aku ditanyai apa keluhan ku, aku jawab “Pendengaran telinga kiri kurang terdengar”. Setelah itu aku disuruh ke kursi pemeriksaan untuk diperiksa. Dan dokter itu melakukan uji pendengaran (entah apa namanya), alat seperti garpu dipukul terus berbunyi ting dan terdengar suara getarannya.

Uji coba pertama terdengar dengan jelas, diujian ke dua tidak terdengar jelas. Eh tiba-tiba dokter marah karena jawabannya ku berbeda dengan sebelumnya. Mungkin kurang puas dengan jawaban ku dokter itu malah menyuruh ibu ku untuk menanyaiku. Lho dokternya siapa? Apa kau hendak melecehkan ku? Aku benar-benar menjawab dengan jujur malah dibentak-bentak.

Ini bukan pertama kalinya ku dimarahi oleh dokter itu, dulu waktu tenggorakan ku ketulangan, aku memeriksakannya juga dimarah-marahi.

Cih makin jengkel aku dengan dokter ini, cukup ini saja aku periksa ke tempat mu. Gak bakalan aku ke sini lagi, sudah bayarnya mahal, kerjanya gak jelas. Kamu dokter atau dokter gadungan?

Ganti dokter THT

Setelah periksa ke dokter pemarah itu, aku pergi ke Surabaya untuk menjalankan usaha jual beli beras. Kira-kira selama 2 minggu, pendengaran samar-samar.

Sepulangnya dari Surabaya, aku membersihkan telinga ku lagi dan lagi-lagi terdengar suara deb dan telinga kiri ku tidak bisa mendengar suara lagi. Aku pun ketakutan berharap telinga ku tidak apa-apa, karena yang paling aku khwatirkan adalah aku tidak bisa mendengar suara adzan lagi. Jika sulit mendengar suara adzan pasti kesulitan untuk menentukan waktu kapan sholat.

Karena aku sudah terlalu benci sama dokter THT pemarah itu, akhirnya ku putuskan untuk mencari dokter THT yang lain. Aku mencari informasi dari kawan dan internet, disarankan untuk ke rumah sakti Panti Bagija. Di RS itu terdapat dokter THT, yang lebih penting yang praktek bukan dokter pemarah itu.

Selasa jam 7 pagi aku berangkat ke RS Bagija, setelah mendaftar dan mengantri cukup lama sekitar kurang lebih 1 jam (menyebalkan juga sih), akhirnya aku bisa ketemu dokter THT itu.

Aku mendapati dokter THT-nya seorang wanita, dengan lemah lembut dia bertanya apa keluhan ku. Aku menjawab “Telinga kiri ku tidak bisa mendengar, seperti ada cairannya di dalam yang mengganggu pendengaran ku dan ada rasa sakit seperti ditusuk-tusuk”.

Dokter THT itu langsung memeriksa telinga ku, dengan senter di kepalanya dia melihat apa yang ada di dalam telinga ku. Setelah melihat dalam telinga, dia bertanya “Apa kemarin kemasukan air?”, aku jawab “Tidak (padahal iya)”.

Dia melanjutkan lagi pertanyannya, “Apa kemarin bersih-bersih telinga?”, aku jawab “Iya, pakai cotton bad”. Lantas bu dokter menjawab “Dinding telinga mu merah, seperti radang, tapi alhamdulillah gendang telinga mu tidak apa-apa”. “Radang itu membuat kotoran telinga (kepek) menjadi cair dan menyumbat telinga mu, serta rasa sakit seperti ditusuk-tusuk akibat dari diding telinga mu yang bengkak. Kemungkinan terluka akibat kamu membersihkan telinga pakai cotton bad.”

“Kali ini telinga mu aku bersihkan, kalau sakit jangan bergerak ditahan aja dan bilang.”

Setelah dibersihkan langsung pendengaran ku kembali normal seperti sedia kala, tidak diragukan lagi. Sebelum pulang aku mendapatkan nasehat, mulai nanti dan seterusnya jangan membersihkan telinga menggunakan cotton bad. Apa lagi 2 minggu ini karena diding telinga masih rawan.

Aku mendapatkan 2 resep obat, pil. Awalnya aku minta obat tetes, karena aku pikir yang sakit telinga kok yang diobati masuk ke perut. Dokter itu pun menjelaskan bahwa saya tidak memerlukan obat tetes, justru obat tetes akan memperparah sakit telinga mu.

Komunikasi antar dokter

Saya mencoba membandingkan 2 dokter THT, yang satu pemarah yang satu kalem dan tenang. Dokter THT pemarah malah membuat masalah menjadi lebih masalah, karena komunikasi antara dokter dan pasien tidak terhubung, seperti ada jurang dalam yang memisahkan keduanya. Sehingga membuat pesan yang ingin disampaikan dokter ke pasien terhalang oleh situasi yang tidak nyaman.

Dibandingkan dokter yang THT yang kedua, komunikasi antara dokter dan pasien tercapai sehingga pasien menangkap dengan jelas apa yang dibutuhkan untuk sembuh. Dengan sikap yang ramah dan santun dari dokter, informasi jadi cepat ditangkap dan setiap saran dari dokter diterima oleh pasien dan dilaksanakan.

Sejak kasus itu, saya beranggapan dokter tidak bisa menyembuhkan, justru yang menyembuhkan adalah diri kita sendiri. Karena waktu berobat ke dokter kurang lebih 10 menit, sedangkan 23 jam 50 menit milik kita. Sehingga kita perlu mendengarkan semua saran dari dokter untuk kesembuhan kita. Manfaatkan dokter untuk komunikasi dan bertanya bagaimana cara saya sembuh, apa yang harus saya lakukan dan apa yang tidak boleh saya lakukan.

Dokter pertama hanya memberikan ku resep dan tidak memberitahukan ku apa yang harus dilakukan agar sembuh, tentu saya sebagai pasien bingung, apa dengan meminum obat itu pendengaranku jadi normal? Dan itu tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Dokter kedua menjelaskan A-Z sehingga aku paham dan sekarang, alhamdulillah telinga ku kembali normal. 🙂