Oase di tengah Kebun Tebu Madiun

Di belakang rumahnya, tepatnya 5 meter dari jarak tembok rumah ku terdapat hamparan luas kebun tebu yang sudah ada sejak aku kecil. Bertempat tinggal di Madiun, dimana di daerah seputaran Madiun saja ada 4 pabrik gula yang masih aktif. Karena itulah di Madiun sangat mudah mendapati kebun-kebun tebu. Tapi sayang akhir-akhir ini banyak pembangunan perumahan yang memakan kebun-kebun tebu, salah satunya di belakang rumah ku.

Sejak hilangnya kebun tebu yang paling aku rasakan adalah hilangnya binatang-binatang liar seperti Bajing, burung Bubut, Ular dan Elang. Dulu waktu kecil saat kebun tebu belum menjadi perumahan, keluarga ku memelihara Ayam di samping rumah. Masih ingat di kepala ku, Ayam-Ayam peliharaan ku hampir setiap bulan selalu hilang satu dikarenakan dimangsa Garangan, Ular dan Elang. Tapi sekarang tak ada lagi kisah-kisah seperti itu lagi, kalaupun Ayam ku hilang sudah jelas pelakunya adalah manusia, bukan hewan.

Sudah lebih dari 1 tahun, di samping rumah ku ada sebuah rumah yang baru dibangun, sederhana tak begitu besar. Dimana rumah itu membuang air cuci dan mandi ke halaman belakang rumah ku. Awalnya aku tak peduli, karena toh air itu bukan dibuang ke tanah ku, tapi tanah milik pabrik Gula Kanigoro. Tapi akhir-akhir ini aku lebih peduli.

Kepedulian ku terhadap pembuangan air ketika Madiun mengalami musim kemarau. Saat musim hujan, belakang rumah ku hijau royo-royo seperti hamparan surga di belakang rumah. Tapi saat musim kemarau, semua itu sirna. Rumput-rumput yang dulunya hijau dan segar, serta enak dipandang mata. Kini menjadi mati dan tak sedap lagi untuk dipandang, tanah menjadi tandus dan keras.

Hampir setiap memandang aku mendapati tanaman yang mati karena musim kemarau yang panasnya menyengat kulit. Tapi ternyata ada suatu tempat dimana, rumput-rumput masih hijau subur. Tempat itu dimana? Ya tepat sekali, di wilayah yang setiap harinya terkena air buangan tetangga ku.

Akhirnya memanfaatkan kesempatan, tempat itu aku tanami terong, kacang-kacangan dan ketela. Alhamdulillah, tanaman ku tumbuh subur dan tinggi. Agar belakang rumah ku kembali hijau, akhirnya aku luaskan area aliran air alhasil belakang rumah menjadi hijau. Tanaman bayam tanpa aku sadari juga tumbuh di sana.

Tak hanya tumbuh-tumbuhan yang subur, tapi umat nabi Sulaiman, hewan-hewan yang masih tinggal di kebun Tebu sering muncul di belakang rumah. Mereka seperti Kadal, Kucing, burung Gemak, bahkan Ular kini sering mendatangi halaman rumah ku hanya untuk sekedar mencari minum.

Tak habis akal, belakang rumah sering aku tebar makanan burung yang aku ambil dari kakak ku, yang kebetulan hobi pelihara burung. Makanan itu aku tebar agar burung-burung Gereja mau turun ke belakang rumah untuk memungut makanan gratis itu. Sekarang otomatis, belakang rumah menjadi lebih ramai. Burung-burung Kutilang, Pentet, Dara dan banyak sering hinggap pohon belakang rumah.

Di belakang rumah juga ada dua pohon Pepaya, dimana setiap waktu panen sengaja tidak aku ambil buahnya hanya untuk menjadi makanan para burung.

Rencananya aku mau buat sebuah kolam besar berisi ikan Molly di belakang rumah yang luas. Diharapkan menjadi sebuah oase di tengah kebun Tebu, oase yang kecil dari air buangan rumah saja bisa menyuburkan suatu wilayah dan mendatangkan hewan-hewan, bagaimana dengan oase yang besar dan dirawat dengan baik. Tapi yang disayangkan, saya masih belum mendapati hewan Garangan dan burung Bubut yang mampir ke belakang rumah, mungkin sudah punah.

Advertisements

0 Responses to “Oase di tengah Kebun Tebu Madiun”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s