Tidak Ada Kemuliaan Sedikitpun

‘Abdur-Rahmān bin Jubair bin Nufayr meriwayatkan bahwa ayahnya berkata, “Ketika tanah Siprus ditaklukkan, orang-orang mulai membagi tawanan. Mereka dipisahkan di antara mereka sebagai tawanan yang saling menangisi satu sama lain. Maka Abu Dardā’ pergi ke sampingnya. Ia kemudian duduk di atas tanah dan menangis.

Kemudian Jubair bin Nufayr datang kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Dardā’? Apakah engkau menangis pada hari di mana Allāh telah memuliakan Islam dan ummatnya serta mempermalukan agama kufur dan kaumnya?’

Lalu ia menjawab, ‘Semoga ibumu berduka atas kematianmu, wahai Jubair bin Nufayr! Betapa hina orang-orang di hadapan Allāh jika mereka meninggalkan perintah-Nya. Apakah mereka bukan bangsa yang nyata dan kuat yang dapat mempertahankan kaumnya? Mereka berkuasa sampai mereka meninggalkan perintah Allāh, sehingga akhirnya mereka seperti apa yang engkau lihat saat ini. Sungguh ketika perbudakan menimpa suatu kaum, maka mereka telah melupakan nikmat Allāh, sehingga Allāh tidak membutuhkan mereka’” [Sunan Sa’īd bin Mansūr].

Membaca cerita di atas sungguh saya sehati dengan Abu Dardā, beliau bisa melihat yang tidak bisa dilihat kebanyakan umat islam sekarang ini. Abu Darda menangis bukan karena kasihan terhadap tawanan Siprus yang akan dijadikan budak, tetapi menangis karena betapa beruntungnya menjadi seorang muslim sehingga dimuliakan الله عز وجل dan tidak menjadi seperti orang-orang kafir mendapatkan kehinaan di hadapan الله عز وجل

Jika orang kafir hidup, mereka diperangi sampai mereka tunduk kepada syariat Islam dengan membayar jizyah, dan jika orang kafir mati sungguh mereka akan dilemparkan ke adalam neraka Jahanam yang berapi hitam dan panasnya jika 1 tetes api neraka jatuh ke dunia, niscaya hancur semua apa yang ada di dunia ini dan di dalam Jahanam mereka tidak mati dan tidak hidup.

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. QS 35 ayat 36

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.QS 20 ayat 74

Sungguh tak ada kemuliaan sedikitpun ketika seseorang telah dimasukan ke dalam Jahanam karena perbuatannya sendiri, di dalamnya mereka tidak hidup dan tidak mati. Mereka di siksa sampai sampai tak merasakan lagi nikmatnya hidup dan mereka disiksa tak membuat mereka mati untuk mengakhir siksa yang pedih itu.

Mengingat kisah nabi Nuh عليه السلام yang berdakwah untuk menyembah الله عز وجل saja selama 950 tahun ditolak kaumnya, betapa sabar nabi Nuh عليه السلام untuk mengajak kaumnya beriman. Tapi mereka (orang-orang kafir) malah meminta didatangkan azab, akhirnya nabi Nuh عليه السلام berdoa kepada الله عز وجل

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. QS 71 ayat 26-27

Sehingga الله عز وجل mendatangkan banjir yang membuat binasa semua orang kafir yang tinggal di atas bumi. Selain itu الله عز وجل berfirman kepada nabi Nuh عليه السلام ketika nabi Nuh عليه السلام meminta pertolongan الله عز وجل untuk menyelamatkan keluarganya.

“Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu agar kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”  QS 11 ayat 46

Sungguh tak ada kemuliaan sedikitpun ketika seseorang menjadi kafir, tak peduli berapa banyak jumlah orang-orang kafir di dunia, jika الله عز وجل menghendaki niscaya binasalah mereka semua. Semua yang mereka usahakan di dunia ditinggalkan begitu saja dan berhala-berhala yang mereka sembah dahulu juga tidak dapat membantu mereka sedikitpun. Bahkan persaudaraan sedarah akan putus jika menjadi kafir, saudaranya yang beriman tak bisa sedikitpun membantunya, itu semua karena mereka ingkar kepada الله

Ingatlah juga kisah nabi Luth عليه السلام dimana penduduknya menyukai hubungan sesama jenis. Hampir sama dengan kisah nabi Nuh عليه السلام , orang-orang kafir ini meminta azab disegerakan

Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. QS 29 ayat 29

Sehingga dibolak-balikanlah tempat orang-orang kafir berpijak dan ditimpalah mereka dengan batu panas, sebagai azab karena tidak mendengar perintah الله عز وجل

Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” QS 11 Ayat 82-83

Istri nabi Luth ikut di azab karena kekafirannya dan mengolok-olok dakwah suaminya yang mulia nabi Luth عليه السلام. Istri nabi Luth dan istri nabi Nuh memilih kafir dari pada beriman, sehingga mereka diseret kedalam Jahanam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia, di sana mereka tidak hidup dan tidak pula mati.

Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” QS 66 ayat 10

Cukuplah 3 kisah tadi menjadi pelajaran bagi kita, sesungguhnya tidak ada kemuliaan sedikitpun bagi orang-orang kafir, baik di dunia dan di akhirat. 3 kisah mulia yang menggoncangkan jiwa dan mengubah sudut pandang kita, semoga kisah tadi menambah keimanan kita. Aamiin.

Bagaimana harta dan kedudukan mereka dia dunia? Bukankah itu kemuliaan?

Bukan itu sama sekali bukan kemuliaan, ingatlah ayat ini

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. QS 9 ayat 55

Saya bersyukur menjadi seorang muslim, walaupun orang kafir dan munafik memandang rendah, sungguh berpegang teguh terhadap tali الله عز وجل lebih mulia dari pada tertipu tipu daya setan.

Sumber

[1] Budak Wanita atau Pelacur?
[2] Kisah Nabi Luth ‘alaihissalam
[3] Kisah Nabi Nuh’alaihissalam (bagian – 01)

Advertisements

0 Responses to “Tidak Ada Kemuliaan Sedikitpun”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s