Suasana Sekolah Indonesia Saat Penjajahan Jepang

Era Jepang

Ini adalah kisah nyata yang ditulis oleh Seobagijo Ilham Notodidjojo yang pernah merasakan penjajahan Jepang waktu sekolah di Jakarta. Sangat menarik karena dia mengalami rasanya didik Jepang, ketika Jepang kuat, sampai melemah dan berakhir dengan kekalahan total ketika Hirosima dan Nagasaki dibom atom oleh teroris Amerika. Kisah ini mereka tulis di buku “Bunga Rampai Soempah Pemoeda” terbitan PN Balai Pustaka, buku ini tak sengaja aku temukan di rak buku, entah siapa yang punya tapi menarik dibaca. Kisah ini akan saya tulis ulang dengan gaya bahasa ku sendiri, kalau ingin membaca kisah aslinya silahkan beli / cari buku itu.

***

Soebagijo Ilham Notodijojo pada saat penjajahan Jepang dia adalah pelajar SGT di Sekolah Guru Tinggi di Pegangsaan Timur 17 Jakarta. Awalnya dia bertempat tinggal di asrama Sekolah Guru Laki-laki Blitar, tapi setelah menjadi guru sekitar 3 bulan dia di kirim ke Pusat Latihan Guru se-Jawa di Leonielaan 5 Jatinegara. Belum selesai pelatihan itu, Jepang membuka Sekolah Guru untuk Sekolah Menengah yang kemudian dijadikan Sekolah Guru Tinggi dan dia diterima menjadi pelajar SGT tersebut.

Pada saat Belanda menjajah Indonesia asrama Pegangsaan Timur 17 merupakan rechtshoolyang kemudian berubah menjadi studenten-tehuis. Tapi ketika peralihan kekuasaan, Jepang mulai berkuasa tahun 1942 di Indonesia studenten-tehuis dirubah menjadi tempat lathian calon guru-guru olahraga untuk sekolah menengah, tapi akhirnya asrama dan gedungnya dijadikan SGT. Seobagijo juga menulis jika gedung SGT pernah dijadikan tempat singgah sementara mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang hendak dikirim ke Jepang untuk belajar di sana.

Lapar Karena Wanita Indo-Belanda

Ada fakta menarik ketika Jepang menguasai Indonesia, dalam dunia pendidikan, Jepang sangat memanjakan pelajar-pelajar Indonesia terutama di Sekolah Guru dengan memberikan makanan cukup dan ada lauk pauknya yang penuh gizi. Bahkan mereka mendapatkan lauk pauk seperti daging Ayam, telur, sayur-sayuran dan buah-buahan yang lezat. Setelah selesai belajar mengajar di sekolah latihan, mereka mendapatkan makanan extra yaitu bubur kacang hijau.

Tapi semua itu berakhir ketika Jepang mulai kalah perang di wilayah-wilayah yang dikuasainya, perang berkecamuk, wilayah Jepang mulai menyusut. Kondisi itu membuat Jepang harus menghemat anggaran, beras mulai dikumpulkan untuk hetai-san, makanan yang diberikan kepada pelajar semakin berkurang.  Kondisi ini diperparah guru-guru asal Jepang yang tinggal di asrama mempunyai “pacar” wanita-wanita Indo-Belanda. Karena itu guru-guru asal Jepang melakukan korupsi dengan mengalihkan jatah beras yang seharusnya diberikan untuk pelajar, menjadi jatah wanita-wanita Indo-Belanda.

Sebenarnya pelajar mendapatkan 240 gram setiap harinya untuk makan, walaupun sedikit tapi cukup untuk mengganjal perut yang sedang lapar dan mengembalikan tenaga dari aktifitas fisik selama satu hari penuh. Tapi guru asal Jepang mengambil 60 gram dari setiap pelajar untuk menyenangkan wanita Indo-Belanda. Sehingga pelajar hanya dapat makan 180 gram beras yang harus dimakan pagi, siang dan malam.

Kegiatan Kinroohooshi yang Melelahkan

Di tengah kondisi asupan makanan yang buruk dan sedikit, para pelajar mempunyai segudang aktifitas yang berat dan menguras tenaga. Walaupun mereka adalah calon guru, tapi mereka diwajibkan baris-berbaris sambil menyayikan lagu-lagu Jepang dengan tempo mars. Selesai baris-berbaris mereka biasanya akan mengerjakan Kinroohooshi atau kerja bakti.

Awalanya Soebagijo tidak tau apa itu kinroohooshi, dia pikir itu adalah aktivitas kerja bakti seperti di kampung-kampung. Tapi ternyata berbeda jauh dari apa yang dipikirkannya. Kinroohooshi yang dimaksud adalah melakukan segala macam aktifitas yang berhubungan dengan kemiliteran. Seperti membabat alang-alang di lapangan terbang Kemayoran, menjadi kuli angkut gula dan beras di gudang-gudang Heitaisan di jalan Ksatrian. Tidak hanya itu mereka juga ditugaskan untuk mengangkat bambu di Manggarai dan membersihkan gudang-gudang tempat penyimpanan makanan tentara Jepang dan masih banyak lagi. Jepang beralasan itu semua dilakukan untuk memenangkan perang Asia Timur Raya.

Menyanyikan Dai Nippon Tapi Hati Menolak

Awal mula belajar di SGT mereka disuruh menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jepang, tapi tak bertahan lama lagu-lagu berbahasa Jepang digantikan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang bertema cinta tanah air.

Ketika pelajar sedang tidak ada agenda kinroohooshi, pelajar dibawa ke lapangan yang sekarang menjadi Monas untuk memperingati hari-hari raya Jepang. Seperti hari Tenchoo Setsu, hari lahir Kaisar Jepang, Meiji Setsu, hari lahir kakek Kaisar Jepang, perayaan hari pecahnya perang asia timur raya dan peringatan-peringatan lainnya.

Sebelum upacara dimulai, pelajar-pelajar se Jakarta sudah berkumpul di sana (lapangan Monas). Setelah itu petinggi-petinggi Jepang seperti Gunseikan-kakka atau Saikoo Shikikan-kakka berpidato menyampaikan pendapatnya. Tapi Soebagijo dan pelajar-pelajar lainnya tidak memperhatikan pidato mereka, malah yang menjadi perhatian mereka adalah semangat yang diberikan oleh Soekarno, Hatta, Dewantara dan Mansjur. Tulis Seobagijo, walaupun dihadapan Jepang mengatakan “sehidup semati dengan Dai Nippon”, tapi kalimat “sehidup semati dengan Jepang” tidak pernah singgap di hati kami.

Membantah dengan Guru Jepang

Awal mula pelajar sangat menghargai keberadaan guru-guru asal Jepang, tapi seiring berjalannya waktu pelajar mulai berani dengan guru mereka. Apalagi setelah tahu gurunya mengurangi jatah beras untuk wanita Indo-Belanda, membuat citra guru Jepang hancur. Setelah pelajar dapat berbahasa Jepang, mereka gunakan untuk membantah gurunya.

Seobajiyo menceritakan pernah guru musik (orang Indonesia) bertengkar dengan guru Jepang di halaman sekolah mereka. Masalahnya sepele, guru Jepang ingin dipanggil shidookan (pemimpin), tapi guru musik tidak mau, dan tetap memanggil mereka sensei. Alasannya karena yang dipanggil shidookan adalah kepala sekolah. Akibatnya mereka bersitegang dan hampir terjadi baku pukul, jika guru Jepang berani memukul guru musik, Seobajiyo dan kawan-kawannya siap membantu guru musiknya.

Pernah suatu hari pelajar-pelajar SGT tidak mau kepalanya dicukur gundul, mereka lari dari asrama dan Jepang mendapati asrama SGT kosong.

Setiap pagi pelajar SGT disuruh bangun pakai dan kemudian tenkoo (diabsen). Setelah itu mereka disuruh melakukan Tokyo-yoohai, yaitu menghadap ke istana kaisar di Tokio, lalu melakukan sai-kei-rai (membungkukkan badan ke arah Utara).

Bulan Proklamasi

Waktu Indonesia menyatakan diri merdeka dari penjajahan, saat itu pelajar SGT sedang liburan puasa sekolah. Setelah liburan usai, pelajar menuju ke sekolah dan mendapati tidak ada lagi guru-guru Jepang yang ada di sana. Guru-guru yang gila hormati itu tak nampak lagi batang hidungnya di Indonesia.

***

Demikianlah cerita singkat yang dialami Seobagijo Ilham Notodidjojo ketika menjadi pelajar SGT merasakan diajar oleh guru-guru Jepang yang gila hormat dan wanita Indo-Belanda. Jiwa dan raga muda digembleng dengan kinroohooshi tapi hati tetap menolak untuk tunduk kepada Jepang.

Semoga cerita ini menambah wawasan dan gambaran bagaimana kondisi sekolah saat Jepang menjajah Indonesia, betapa sulitnya masa itu. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita yang ada di buku “Bunga Rampai Soempah Pemoeda” yang menarik, jika ada waktu saya akan menuliskannya di Blog tercinta ini.

Advertisements

1 Response to “Suasana Sekolah Indonesia Saat Penjajahan Jepang”


  1. 1 fx. jusuf sutadji August 22, 2016 at 7:35 am

    Terima kasih, “Suasana Sekolah Indonesia Saat Penjajahan Jepang” sungguh merupakan cerita sejarah yang nyata, menampilkan seorang tokoh Soebagijo Ilham Notodidjojo yang sangat santun rendah hati, nasionalis dan heroik kulturis. Ini bukan bermaksud memuji tapi kenyataan. Beliau pernah aktif di kantor pemberutaan Antara. Dalam kegiatan menulis sering memakai nama Soebagijo I.N., Dananjaya, H.Sin.
    Kepribadian Soebagijo Ilham Notodidjojo tetap tegar sampai sepuh masih konsisten dengan cerita faktual menjembatani terus menerus menuturkan nilai luhur tempo doeloe sampai menjelang wafatnya di tempat tinggal terakhir perumahan Bali View Tangerang Selatan. Sepengetahuan penulis beliau juga mengasuh Buletin “Keluarga Kita”- Sarana Sambung Rasa Eks. Siswi-Siswa SGP/SGL Blitar.
    Soebagijo Ilham Notodidjojo disukai kawan2nya, adik2 juniornya dengan panggilan akrab mas Bag.
    Kawan2 SGP/SGL Blitar antara lain: Tjuk Atmadi, Soehardiman S.E, Mimiek Soerowo Abdulmanap, Wahyudi, Aris Munandar, Harsoyo, Sudarminah, Suhartini Muzhar, Noes Blitar, Siti Ngaisah Harjoso
    dll. Terima kasih (jusuf sutadji)

    Soepeno. Sekian terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s