Archive for June, 2015

Munafik (Hipokrit) Pandai Bersilat Lidah Menurut Sayyid Quthb

وَمِنَ النّاسِ مَن يُعجِبُكَ قَولُهُ فِى الحَيوٰةِ الدُّنيا وَيُشهِدُ اللَّهَ عَلىٰ ما فى قَلبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الخِصامِ
وَإِذا تَوَلّىٰ سَعىٰ فِى الأَرضِ لِيُفسِدَ فيها وَيُهلِكَ الحَرثَ وَالنَّسلَ ۗ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الفَسادَ
وَإِذا قيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتهُ العِزَّةُ بِالإِثمِ ۚ فَحَسبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئسَ المِهادُ

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS. Al Baqarah 204 – 206)

Ayat di atas adalah salah satu deskripsi orang kafir yang berbaju muslim, atau dikenal dengan munafik (hipokrit). Sangat sulit membedakan muslim dengan munafik, karena keduanya sama sama berucap لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ dan memakai pakaian yang sama. Jika kita memakai kacamata Islam dengan benar, sebenarnya kita bisa melihat munafik dari tingkah laku mereka sehari hari. Tapi Sayyid Quthb menjelaskan ciri-ciri orang munafik dalam buku Tafsir Fi Zhilali-Qur’an Jilid 1.

Dalam Halaman 612, Sayyid Quthb menulis; “Pertama, tipe hiprokit yang jahat dan pandai bersilat lidah, yang menjadikan dirinya sebagai poros seluruh kehidupan. Penampilannya menarik tetapi batinnya sangat menyusahkan anda. Bila diajak kepada kesalehan dan taqwa kepada الله عَزَّ وَجَلَّ, ia tidak mau kembali kepada kebenaran dan tidak berusaha memperbaiki dirinya, bahkan membanggakan dosa-dosanya dan merasa enggan diajak kembali kepada kebenaran dan kebaikan. Ia terus melaju di jalannya menghancurkan tanaman dan keturunan”.

Dalam halaman 615, Sayyid Quthb menambahkan lagi penjelasan tentang munafik;“Makhluk (munafik) yang berbicara ini, dengan menggambarkan kepada anda bahwa di dalam dirinya terhimpun segala kebaikan, keikhlasan, kejernihan, cinta, kemuliaan, keinginan untuk melimpahkan kebaikan, kebajikan, kebahagiaan dan kesucian kepada manusia. Makhluk (munafik) yang pembicaraannya mempesona Anda ini. Mempesona anda dengan lidahnya yang fasih, mempesona anda dengan suaranya yang merdu, mempesona anda dengan pembicaraanya tentang kebaikan, kebajikan dan kesalehan.”

“(semua itu dilakukan) Demi memperkuat pengaruh dan kesannya, demi untuk menampakkan taqwa dan dan rasa takutnya kepada Allah”.

Maksud Sayyid Quthb adalah orang-orang munafik menggunakan segala cara untuk membuat tipu daya, bahkan mereka menampakkan taqwa dan rasa takutnya kepada الله, padahal tidak, itu hanya sebuah pencitraan saja. Semua itu dilakukan untuk memperkuat pengaruh dan kesannya saja.

Sayyid Quthb melanjutkan; “Padahal ia adalah penantang yang paling keras (QS Al Baqarah 204). Jiwanya penuh sesak dengan dendam dan permusuhan, sehingga tidak ada lagi teduhan kasih sayang dan rasa toleransi di dalamnya, tidak ada lagi tempat untuk rasa cinta dan kebaikan di dalamnya, tidak ada lagi ruang untuk berbuat baik dan mengutamakan orang lain di dalamnya”.

“Itu orang yang lahiriahnya kontradiktif dengan batinnya, penampilannya bertentangan dengan apa yang ada di hatinya. Itulah orang yang piawai berdusta, mengelabuhi, dan menipu. Hingga ketika telah tiba saat beramal barulah terungkap apa yang disembunyikannya, terbongkar apa yang ditutupinya, tersingkap hakikat kejahatan, kezhaliman, kedengkian dan kerusakannya”.

Sayyid Quthb menjelaskan salah satu ciri orang munafik adalah; “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan (QS Al Baqarah 205).

“Apabila telah beralih kepada amal perbuatan, arah kejahatan dan kerusakannya yang kasar dan sangat tercermin pada penghancurannya terhadap setiap yang hidup baik berupa ladang tempat tanaman, tubuhan dan buah-buahan ataupun binatang ternak yang merupakan perpanjangan kehidupan melalui keturunan. Penghancuran kehidupan dengan cara seperti ini”;

Sayyid Quthb merujuk pada ayat Al Qur’an; “Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya (QS Al Baqarah 206)“.

Celakahlah kau orang munafik, yang menzhalimi dirinya sendiri. Kelak kau akan ditampakan keadaanmu yang sebenarnya di hadapan الله عَزَّ وَجَلَّ Itu karena kau telah menipu diri mu sendiri karena tidak memakai kacamata Islam dalam melihat dunia, tapi memakai kacamata hawa nafsu yang membuatmu terbuai dalam bisikan setan.

Di era social media dan keterbukaan informasi, orang munafik mulai menampakan diri mereka secara terang-terangan. Ambil saja di twitter, banyak orang-orang munafik berpakaian Islam, bernama Islam tapi pemikiran jauh dari Islam, bahkan mendekati kekafiran. Di menu pencarian Twitter dengan #JIL dan #JIN anda akan menemukan, fulan-fulan yang membongkar kesesatan para munafik.

Berjalanannya waktu orang munafik tidak hanya dari kalangan miskin ilmu Islam, bahkan mereka kaya dengan ilmu agama, melantunkan Al Qur’an dengan indah, tapi mereka mencoba mencampurkan yang haq dengan yang bathil.

Sebagai contoh, ketika Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis, orang-orang munafik langsung mendobrak syariat Islam dengan hawa nafsu mereka, dan mengatakan bahwa dalam Islam pernikahan sesama jenis boleh. Dan orang-orang yang berbicara seperti itu bukan dari kalangan buta huruf, tapi kalangan intelek yang tergabung dalam JIL (Jaringan Islam Liberal) dan sekarang sudah beranak-pinak, salah satu anaknya adalah JIN (Jama’ah Islam Nusantara).

Lihatlah mereka (munafik) seperti apa yang difirmankan الله عَزَّ وَجَلَّ dalam surat Al Baqarah 204 – 206, yang Sayyid Quthb tafsirkan dengan jelas. Munafik menampakan diri mereka yang paling Islam (padahal tidak), untuk menipu umat Islam, ketika umat Islam sudah terbius dengan penampilan mereka, mereka mulai menampakan pemikiran-pemikiran kotor kepada masyarakat. Setiap jalan yang mereka tempuh untuk membuat kerusakan di muka bumi, dan tempat mereka kembali adalah jahanam.

Wallahu’alam.