Archive for September, 2014

Mengambil Pelajaran Dari Kisah Nabi Musa, Bani Israil dan Sapi Betina

Ada pelajaran menarik bagi diri ku dan kaum muslimin tentang kisah yang apik, bijak, yang tertulis indah dalam Al Qur’an. Di dalam Al Qur’an tepatnya pada surah Al Baqarah ayat 67 – 71 ada kisah tentang nabi Musa alaihis salam dengan Bani Israil, kisah tentang Bani Israil yang disuruh oleh Musa alaihis salam untuk menyembelih sapi betina. Silahkan anda buka Al Qur’an dan bacalah kisah itu.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”

Mereka menjawab: ” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Sebenarnya kisah ini sudah sering ku baca tetapi karena keterbatasan ku, kisah ini kurang dapat ku pahami maksud dan tujuannya. Tetapi dalam buku Tafsir Fi-Zhilalil karya Sayyid Quthb menjelaskan secara jelas dan mudah diterima. Sayyid Quthb mentafsirkan kisah itu adalah kejahilan dan pembangkangan Bani Israil yang melakukan tawar menawar perintah Allah Azza wa jal kepada nabi Musa alaihis salam.

Ketika terjadi pembunuhan di antara kalangan Bani Israil, mereka saling tuduh di antara mereka. Tidak adanya saksi peristiwa pembunuhan tersebut membuat mereka saling tuduh tanpa bukti nyata. Kemudian Allah Azza wa jal memerintahkan untuk menyembelih sapi betina kepada Bani Israil, dan di akhir cerita Allah menyuruh memukul mayat itu dengan salah satu bagian dari sapi betina yang telah disembelih tadi. Si mayat yang terbunuh tadi hidup dan memberitahukan siapa yang membunuh dia sebenarnya.

Tetapi kisah menarik terjadi ketika Bani Israil rewel dan melakukan tawar menawar ketika perintah Allah Azza wa jal turun langsung melalui nabi Musa untuk menyembelih sapi betina, justru Bani Israil menganggap perintah itu adalah sebuah ejekan kepadanya.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”

Nabi Musa alaihis salam sudah menjelaskan dengan santun dan jelas perintah kepada Bani Israil untuk menyembelih sapi betina. Tetapi kebodohan sepertinya mendominasi isi otak Bani Israil dan menganggap perintah Allah dan ucapan nabi adalah sebuah ejekan. Jika melihat mujizat dibelahnya laut merah dan diselamatkannya Bani Israil dari kejamnya Firaun, seharusnya mereka sudah beriman dan taat.

Apakah karena dulu mereka menyembah sapi betina menjadikan mereka ragu dan sungkan karena menyebelih tuhan palsu mereka dahulu, padahal mereka sudah diperintah oleh Tuhan yang menyelamatkan mereka dari Firaun yaitu Allah Azza wa jal , keimanan mereka sedang diuji.

Melihat jawaban Bani Israil yang membangkang terhadap perintah Allah Azza wa jal , nabi Musa menjawab dengan sindiran karena kebodohan Bani Israil.

Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”

Nabi Musa alaihis salam mengetahui sikap mereka yang menganggap perintah Allah Azza wa jal sebuah ejekan adalah kejahilan atau tindakan bodoh yang seharusnya tidak pantas ditunjukan.

Kebodohan Bani Israil sebenarnya juga menyakiti umat Islam saat ini, bisa kita lihat di negara kita sendiri. Allah Azza wa jal sudah memerintahkan dengan jelas hukuman bagi pencuri adalah dipotong tangannya, tetapi hukum itu dianggap sepele dan tidak dijadikan rujukan. Mereka menganggap perintah Allah Azza wa jal sebuah aturan yang tak sesuai jaman mengganti dengan hukuman penjara paling lama 5 tahun. Bukankah ini sebuah kejahilan dimana nabi Musa berlindung kepada Allah Azza wa jal dari sifat itu?

Bani Israil tetaplah Bani Israil tak ada yang berubah, sifat bodoh masih menjangkiti pikiran mereka. Kini kobodohan mereka semakin menjadi jadi dan mencoba menawar perintah Allah Azza wa jal melalui nabi Musa.

Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu.”

Bani Israil berkata Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, sebuah kata kata seolah olah bahwa Allah Azza wa jal adalah Tuhan nabi Musa alaihis salam saja dan bukan tuhan mereka. Apakah mereka tidak mengakui Allah Azza wa jal sebagai satu satunya Tuhan dan masih menganggap ada tuhan yang lain. Allahu ‘alam.

Allah Azza wa jal telah memerintahkan kepada Bani Israil untuk menyembelih sapi, tetapi sifat mereka yang menawar perintah Allah Azza wa jal justru mempersulit dirinya sendiri. Padahal jika mereka taat dan patuh, dan langsung segera melaksanakan perintah itu mereka akan mendapatkan sapi betina dengan mudah. Tetapi mereka mencoba menawar dan justru syarat sapi betina yang disembelih semakin rumit.

Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Nabi Musa alaihis salam menjawab pertanyaan mereka, mereka harus menyembelih sapi betina yang tidak tua dan tidak muda. Dan nabi Musa alaihis salam memberi sebuah penegasan untuk segera mengerjakan perintah itu, maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Tetapi lagi-lagi sifat menawar dan mengulur-ngulur dipertunjukan lagi di hadapan nabi Musa alaihis salam oleh Bani Israil.

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

Lagi lagi Bani Israil berkata Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, kebodohan mereka dilakukan ke dua kalinya. Mereka seolah olah berfikiran perintah menyembelih sapi betina hanya untuk nabi Musa alaihis salam saja bukan untuk mereka. Walaupun telah diterangkan dengan jelas oleh nabi Musa, mereka masih mencoba menawar perintah Allah Azza wa jal dan mengulur waktu. Nabi Musa alaihis salam dengan kesabarannya menjelaskan lagi kepada mereka dan kini semakin berat lagi syarat sapi betina yang akan disembelih itu.

Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.”

Lihat setelah Bani Israil mencoba menawar perintah perintah Allah Azza wa jal untuk menyembelih sapi betina, kini syaratnya bertambah, sapi betina, tidak tua dan tidak muda, belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.

Kini mereka dihadapkan dengan syarat yang lebih sulit dari sebelumnya, untuk mendapatkan sapi seperti itu mereka akan kesulitan untuk menemukannya. Melihat syarat yang semakin berat kini mereka taat dan patuh mencari sapi betina itu.

Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”

Setelah sekian lama Bani Israil tawar menawar dan setiap tawar menawar perintah Allah Azza wa jal justru syaratnya semakin memberatkan diri mereka sendiri. Mereka bersegera mencari sapi betina untuk disembelih dan hampir saja mereka tidak dapat menemukannya karena tingginya syarat sapi betina itu.

Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Menurut Sayyid Quthb apa yang dilakukan Bani Israil dalam kisah ini tadi adalah sebuah ciri pembangkangan, kebandelan, mengulu ulur respon dan mencari cari alasan, yang menjadi ciri khas mereka.

Demikianlah kisah Bani Israil yang mencoba tawar menawar, mengulur waktu terhadap perintah Allah Azza wa jal, yang mengakibatkan mereka memperberat diri dengan banyak bertanya, maka Allah Azza wa jal memberatkan mereka. Jika saja dari awal mereka mentaati perintah Allah Azza wa jal dan melaksanakan petunjuk nabi Musa alaihis salam maka mereka bisa saja mengambil sapi betina mana saja lalu menyembelihnya.

Diri ku sendiri dan umat Islam harus dapat mengambil pelajaran ini tadi untuk tidak tawar menawar dalam perintah Allah Azza wa jal. Sehingga tindakan kita dalam menawar perintah Allah Azza wa jal akan berakibat memberatkan diri kita sendiri di dunia maupun di akhirat nanti.

Sebagai contoh sifat pembangkangan mencari solusi lain untuk menghukum pencuri, alhasil aksi pencurian masih terus terjadi, bahkan koruptor semakin hari semakin bertambah. Dan akhirnya apa jika hukum Allah Azza wa jal dikesampingkan dampaknya akan memberatkan diri mereka sendiri seperti kisah Bani Israil.

Jika saja pencuri / koruptor dipotong tanganya, bagaimana mereka akan mencuri lagi? Menggunakan tangan satunya, jika mereka tertangkap otomatis mereka akan kehilangan kedua tangannya lagi. Dan lagi jika tanganya terpotong bagaimana dia bisa menikmati hasil curiannya? Walaupun punya 100 M tapi klo gak bisa cebok habis buang hajat apa ya enak? Gak bisa ngupil, gak bisa makan.

Ketika dilarang berzina jika kita tidak taat dan mencari cari hujjah atau mengelabui sistem pernikahan seperti perilaku kawin kontrak / kawin mut’ah yang dilakukan orang Syiah berakibat mereka akan terjangkiti penyakit kelamin.

Ketika diperintahkan untuk wanita mengenakan niqab, tetapi mereka tidak taat dan mencari cari alasan yang penting hatinya berjilbab. Akhirnya mereka terkena aksi pelecehan seksual, menarik lawan jenis untuk pacaran akhirnya zina, hamil, aborsi. Lihat semakin menolak perintah Allah Azza wa jal justru akan memberati diri kita sendiri sadar atau tidak sadar.

Contoh lain lagi melakukan tidakan bid’ah seperti selamatan 1000 hari orang yang sudah mati, justru akan memberatkan diri mereka sendiri yang harus mengeluarkan waktu, ruang dan biaya untuk hal yang tidak diridhoi oleh Allah Azza wa jal.

Sekiranya ini sudah cukuplah sebagai nasehat kepada diri saya sendiri untuk tidak berlaku seperti sifat Bani Israil terhadap nabi Musa alaihis salam. Serta taat dan patuh terhadap perintah Allah Azza wa jal.

Wallahu ‘alam