Fenomena “Proud to be kafir” : Kekafiran Ku Dahulu (Bagian I)

Terhentak kaget bagaikan beruang yang bangun di musim dingin, ketika melihat sebuah kalimat yang tak pantas diucapkan dari seorang yang diciptakan dari tanah. Sebuah kalimat yang tercampur kata-kata haram, jika diucapkan dunia ini akan luluh lantah. Kalimat yang menunjukan kesombongan melebih dari kesombongan iblis yang menentang untuk sujud di hadapan Adam as.

Apakah kalimat itu?
Ya kata yang terucap dari bibir manis dan buah pikiran manusia untuk menentang Allah swt. Kalimat haram itu adalah “Proud to be kafir”. Kalimat haram itu saya temukan ketika berselancar di forum Kaskus, dimana freedom of speech diagungkan.

Di sebuah forum terketik sebuah post, bahwa dia memproklamirkan “Proud to be kafir”. Mata ku terbelalak, mencoba mengulangi, membacanya secara perlahan-lahan mungkin aku salah baca, seakan tak percaya dia telah menulis kalimat itu. Tangan ini gemetar, bagaimana seseorang manusia bisa bangga atas kekafirannya.

Kesombangan macam apa yang membuat seorang manusia begitu bangga akan kekafirannya? Kesombongan macam apa? Jelaskan pada ku?

***

Sebelum melangkah lebih lanjut, sekelebat aku teringat dalam kekafiran ku dahulu yang sebenarnya ingin ku kubur dalam-dalam ingatan hina itu (semoga Allah swt mengampuni ku).

Di masa lalu aku adalah seorang pentang Islam yang nyata, anehnya justru aku beragama Islam.

Dididik di pendidikan bersifat moderat, tak ku dapatkan pelajaran kebenaran agama Islam walaupun ada pelajaran Agama Islam. Bahkan kalau ada ujian agama, aku pasti mendapatkan nilai terendah.

Ketika embun masih di rerumputan, aku mendengar berita yang membuat manusia lupa akan aktifitasnya. Peristiwa dahsyat 11 September 2001, menciptakan sebuah fitnah terhadap agama Islam adalah teroris, anehnya aku percaya. Dahsyatnya informasi yang disuguhkan media-media, terciptanya pemikiran dan imajinasi haram tentang tuhan dan masuk ke dalam otak ku bagaikan vitamin yang membuat diri ini menjadi penentang yang nyata dalam ajaran Islam.

Di SMA diri ku semakin menjadi-jadi dalam kekafiran, seolah-olah aku paling benar, Islam (yang sesuai sunah) mereka salah, harus dirubah. Kebencian ku bertambah lagi dengan adanya aksi terorisme di Indonesia, BOM Bali I, II, JW Mariot dan lain-lain.

Selepas SMA aku putuskan untuk kuliah, sepertinya Allah swt menyuguhkan brosur untuk kuliah di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) lewat ayah ku. “Wah cocok nih, mungkin aku bisa belajar pola pikir mereka dan merubahnya menjadi seperti diri ku (penentang Islam yang beragama islam)”, pikir ku ketika mendapat brosur itu.

Di UMM aku belajar seperti biasa, ternyata di kampus sana tak sepertinya yang aku bayangkan, bahwa umat Islam yang berjenggot pasti teroris, justru mereka baik-baik dan tak pernah keluar kata kotor dari mulutnya. Begitu juga wanitanya yang mengenakan hijab secara syari, justru mereka kalau bicara lembut-lembut, kalau aku nakal sedikit pasti diingatkan.

Hati ku yang sekeras batu karang inipun sedikit melembut terhadap agama Islam. Hari berganti hari, bulan berganti bulan diri ini masih menolak terhadap agama Islam. Tetapi suatu hari teman akrab yang ku anggap saudara sendiri yang sebenarnya sedikit nakal juga main ke kos ku. Kok bisa-bisanya membawa buku The Choice karangan Ahmad Deedat dan Hidup Sesudah Mati karya Bey Arifin.

The Choice buku debat agama antara Islam vs Kristen, dimana membandingkan kitab Al Qur’an dengan Bible siapa yang menang. Aku pun meminta ke teman ku untuk membolehkannya untuk pinjam, kalau yang buku Hidup Sesudah Mati aku bilang “Engko disek, aku rong siap (Ntar dulu, aku belum siap)”.

Buku yang tebal dan berat itu teryata menghilangkan tabir yang menutupi rahasia yang luar biasa, rahasia yang disimpan sendiri oleh umat Islam sendiri. Sebuah rahasia yang bisa meruntuhkan keyakinan umat Kristen. Jika umat Kristen membaca buku itu, Insha Allah mereka akan masuk Islam.

Takjub ternyata di Al Qur’an telah tercatat sebuah karya Ilmiah yang luar biasa, seperti Bulan dan Bintang berjalan sesuai garis edarnya, Penciptaan manusia, Bumi itu bundar, Gunung-gunung yang sebagai pasak dan masih banyak lagi. Sedangkan kitab Bible banyak kesalahan-kesalahan yang tidak ilmiah, seperti salah hitung dan lain-lain. Ibarat sebuah film layar kaca, kitab Bible itu banyak plot hole-nya.

Setelah membaca buku itu aku memutuskan bahwa Al Qur’an lah kitab yang sebenar-benarnya kitab dari Tuhan, dan konyol jika tuhan tidak bisa menghitung seperti dalam kitab Bible.

Hati yang sekeras batu karang sudah dilunakan oleh sikap ummat Islam dan dilunakan lagi dengan kebenaran Al Qur’an. Tetapi di dalam hati ini masih ada yang ganjel, masih ada yang kurang.

Buku yang ku pinjam tadi aku kembalikan lagi ke teman ku, dan meminjam buku satunya yaitu Hidup Sesudah Mati karya Bey Arifin. Selama ini aku berfikir, klo Isra Mi’rad, kisah Nabi Adam, Sulaiman, Nuh dan lain-lain hanyalah sebuah dongeng dari sebuah agama Islam. Selain itu nabi Muhammad saw sepertinya juga tidak meninggalkan apa-apa kepada ku, ternyata aku salah setelah membaca buku Hidup Sesudah Mati, justru aku sendirilah yang tidak mau mencarinya dan tidak mau tau.

Gara gara buku itu, aku juga baru tau apa itu Hadist.

Ternyata rasulullah Muhammad saw tidak melupakan ku (umatnya), ia mewariskan pesan-pesan yang sudah tertulis dalam kitab-kitab hadist.

Salah satu pesan nabi Muhammad saw yang aku ingat karena itu yang membuat aku takut kepada Allah swt yaitu. Ketika rasulullah berjalan menaiki kuda melewati kuburan, kuda tiba-tiba ketakutan, rasulullah mengatakan kepada sahabatnya mereka (penghuni kubur itu) di siksa karena tidak mau membersihkan “anunya” setelah kencing.

Hanya karena tidak membersihkan “anunya” saja, dia disiksa di dalam kubur apalagi menjadi penantang Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ketakutan ku semakin menjadi-jadi, ketika buku itu menjelaskan dahsyatnya peradilan Allah. Setiap detil kelakuan kita dicatat tanpa tertinggal sedikitpun. Ditambah lagi kengerian gemuruh neraka, padahal kita masih di dalam peradilan Allah.

Merinding keringat dingin keluar, pikiran ku berimajinasi kemana-mana, dulu aku tidak pernah sholat 5 waktu, aku pasti dicelupkan ke neraka yang dahsyat.

Setelah itu aku berhenti menjadi penentang agama Islam, aku pun belajar agama Islam, buku-buku di perpustakaan UMM tentang agama Islam aku sikat guna untuk menghilangkan dahaga ku terhadap agama Islam. Selain itu gerakan pembaruan Islam untuk kembali ke Al Qur’an dan Sunnah merasuk ke dalam darah daging ku. Membuat ku semakin mantab dengan agama ini.

***

Kembali ke “Proud to be kafir” yang mengingatkan ku dengan kelakuan ku dahulu. Dari pelajaran kisah ku, apa kamu tak menarik pelajaran? Seorang penantang Islam akhirnya lunak karena Islam. Apa yang membuat mu menulis kalimat haram itu? Apa karena fitnah yang dibuat oleh orang barat, atau karena kelakuan umat Islam KTP membuat mu buta?

Segeralah bertobat.

Sungguh demi Allah swt yang menciptakan langit dan isinya, ke-pround-nanmu itu akan hilang ketika kamu mati dan bertemu dengan penguasa alam semesta ini yaitu Allah swt.

Wallahu a’lam.

***

Insha Allah besok akan kutuliskan lebih mendalam tentang bahaya “Proud to be kafir”, yang akan membuat mu menyesal di akhirat kelak jika kamu teruskan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s