Melihat Sepak Terjang Emiten GTSI Pasca IPO

GTSI perusahaan LNG milik anak mantan presiden Indonesia, Tommy Soeharto telah IPO tanggal September 2021. Perusahaan yang satu satunya di Indonesia ini (tanpa kompetitor) dan punya prospek bagus dalam jangka panjang, tapi di hari pertama IPO justru harga sahamnya ambles sampai saat ini harga menyentuh Rp 69 per lembar saham.

Dengan harga penawaran IPO Rp 100, PT GTSI Internasional berhasil mengantongi dana sebesar Rp 240.000.000.000 dengan melepas 15 persen saham ke publik. Dimana dana 64% itu akan digunakan untuk pinjaman ke PT Anoa Sulawesi Regas, salah satu anak perusahaan GTSI untuk membangun Floating Storage Regasification Unit (FRSU), dan sisa dana IPO digunakan untuk modal kerja perusahaan.

RFSU-GTSI-SAHAM

Apa FRSU dan rencana GTSI?

Apa itu FRSU? FRSU adalah Floating Storage Regasification Unit merupakan komponen vital untuk transit dan transfer gas LNG lewat laut. Menurut Dadang ITS dalam artikel “Beralih ke LNG, Harus Siap FRSU”, FSRU merupakan unit terminal untuk menampung Liquid Natural Gas (LNG) yang sekaligus mampu merubah kembali LNG ke wujud gas. Selanjutnya, proses dilanjutkan dengan mengalirkan gas tersebut sebagai tenaga ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).

Pada awalnya saya mengira FSRU itu berupa bangunan di darat untuk menyimpan LNG, ternyata itu berupa kapal. Itu berarti FRSU sangat cocok dengan kontur Indonesia, yang didominasi dengan laut.

GTSI mengklaim jika mereka menguasai 93% pasar untuk kapal pengangkut LNG dan 32% untuk RFSU. Menurut Dandun Widodo selaku direktur PT GTSI, GTSI mempunyai 2 kapal pengankut LNG yaitu Ekaputra 1 dan Triputra, dan 2 RFSU yaitu FSRU Amurang dan FSRU Jawa Satu. FSRU Jawa Satu dipakai BUMN Pertamina untuk pembangkit listrik tenaga gas di Karawang, sedangkan FSRU Amurang beroperasi di Sulawesi Utara.

Izak Joelie, anggota Komunitas Migas Indonesia (KMI) mengatakan diperlukan waktu 10 tahun untuk beralih ke bahan bakar minyak ke gas dan memerlukan 49 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan Indonesia. Melihat kesempatan itu GTSI berhasil bekerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara selama 15 tahun untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sulawesi Utara sejak 2019. Tugas utama GTSI dalam proyek itu adalah mengirimkan LNG dari Bontang ke RFSU untuk dikonversi menjadi gas dan akan disalurkan ke pembangkit listrik tenaga gas.

Salah satu perjanjian itu GTSI diharuskan membangun FRSU permanen untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik tenaga gas, karena itu dana IPO GTSI digunakan untuk membangun FRSU yang akan memakan waktu 18 bulan dan menghabiskan biaya kurang lebih $55 juta atau setara dengan Rp 785 miliar.

***

Ketika kita memutuskan untuk membeli saham sebuah perusahaan harus melihat bagaimana prospek bisnis, valuasi dan kinerja perusahaan. Karena itu diperlukan deep research agar investor mengenali dan memahami perusahaan yang kita beli dengan membaca prospektus perusahaan. Dengan memahami luar dalam perusahaan, kita tidak akan goyah dengan liarnya harga saham yang naik turun.

Kalau memang perusahaan GTSI baik kenapa harga selalu turun? Banyak faktor kenapa harga saham turun, pertama kondisi fundamental perusahaan, nilai rupiah terhadap dollar, kebijakan pemerintah, kepanikan dan manipulasi pasar.

Saya melihat faktor kepanikan dan manipulasi pasar adalah penyebab utamanya, ingat ketika GTSI pertama kali listing harga di IHSG langsung ambruk karena aksi jual pemegang perusahaan. Karena itu investor investor lain segera menjual sahamnya agar tidak rugi lebih dalam dipicu oleh emosi bukan analisis rasional. Sebagai investor ketika melihat harga saham yang dimilikinya turun mental harus kuat agar tidak ikut-ikutan panic selling dan ingat tujuan jangka panjang kenapa kita berinvestasi di perusahaan itu.

Sedangkan investor investor kelas kakap mencoba untuk memanipulasi harga untuk keuntungan diri mereka, mereka menekan harga saham GTSI untuk mengusir investor kecil agar dia bisa membeli saham di harga rendah.

Sampai saat ini saya masih rajin mencicil beli saham GTSI, karena tujuan investasi jangka panjang sampai kapal RFSU berhasil dibuat dan berlayar sehingga akan meningkatkan laba perusahaan. Diperlukan pemantauan sekala bergala seperti laporan keuangan dan berita-berita yang beredar tentang GTSI, bahkan menurut berita terbaru GTSI mendapatkan kontrak senilai Rp 56 miliar dari BP Berau.

Sumber :
[1] Beralih ke LNG, Harus Siap FRSU
[2] Pertamina Luncurkan Nama Kapal FRSU Jawa Satu

Berfikir Positif di Masa Pandemi COVID19

Dalam kasus yang terjadi kepada ku, aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi aku minta setiap individu mau bertanggung jawab apa yang telah dilakukan. Menyalahkan pihak lain atas kejadian yang menimpa adalah tingkah laku kekanak-kanakan.

Aku sudah mengambil keputusan ketika ODR datang ke rumah, aku harus bertanggung jawab karena kejadian ini takdir Allah ta’ala. Aku mengambil keputusan untuk dibawa ke rumah sakit, karena aku tak mampu menangani orang sakit, aku bukan dokter.

Berfikir negatif terhadap sebuah peristiwa itu respon awal manusia, fitrahnya manusia untuk bertahan hidup. Cuma pikiran negatif itu harus dikelola, dianalisis, agar kita mengambil keputusan yang positif atau baik, itu disebut berpikir positif.

Contoh kita main ke hutan, eh jangan-jangan di sana banyak ular, orang yang berikir positif pasti mensiapkan alat untuk menghalau ular, menghindari tempat-tempat biasa ular tinggal dan waspada. Sedangkan orang yang berfikir negatif akan masuk hutan tanpa berfikir, jika kena gigit ular dia akan menyalahkan orang lain.

Kembali ke masalah, corona, karena sedang terjadi wabah corona, siapa saja yg datang dari luar daerah menjadi Orang Dalam Resiko (ODR). Pikiran negatif saya jangan-jangan orang ini terinveksi corona? Tindakan saya, langsung saya disinfektan, suruh mandi dan saya isolasi.

Keesokan harinya kondisinya semakin parah, saya bawa ke rumah sakit. Sudah diperiksa, dan disuruh karantina di rumah, jika terjadi sesak nafas suruh ke rumah sakit. Baik aku ikuti nasehat dokter.

Ternyata kondisi ODR, tidak membaik, saya lapor satgas, agar ODR bisa ditangani secepatnya, karena saya juga menjaga diri dan keluarga.

Esoknya, status ODR menjadi PDP (Pasien Dalam Pengawasan), dan dikarantina di rumah sakit dan kami sekeluarga dikarantina di rumah. Satu kampung heboh, tekanan-tekanan dari pihak luar soal keputusan ku dianggap salah, sampai membuat aku tidak bisa tidur selama 3 hari. 3 hari saya berfikir keras, apa keputusan ku salah? Karena banyak sekali pihak-pihak yang menekan aku.

Saya kelola pikiran negatif dan masalah itu, saya masukan ke kantong kresek dan saya berkata, “ini beban, saya pasrahkan kepada mu ya Allah, bantu aku, saya tidak sanggup membawa beban itu sendiri”. Alhamdulillah malamnya saya tidur pules dan beberapa waktu berlalu PDP sehat, sudah bisa makan dan ngomong, tidak seperti hari ketika datang ke rumah yang cuma bisa berbaring di kamar seperti orang sekarat.

12 hari setelah masa karantina, hasil test keluar PDP ternyata positif terinveksi corona. Karena tidak menunjukan gejala seperti batuk, demam, sesak nafas dan lain-lain, statusnya menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala).

Lagi-lagi 1 kampung heboh untuk kedua kalinya. Satgas memberitahu saya klo akan melakukan rapid test terhadap keluarga saya. Lagi-lagi saya dibuat tidak bisa tidur, tekanan-tekanan datang lagi, dan saya kembali, hal-hal buruk di luar sana saya pasrahkan kepada Allah ta’ala. Alhamdulillah rapid tes hasilnya negatif.

Saya selalu melihat dari sisi positifnya,

Satu kampung karantina mandiri, di tengah wabah yang sedang puncak-puncaknya, sehingga tidak ada kegiatan-kegiatan yang bisa membuat warga terinfeksi corona.

Kita jadi lebih waspada dibandingkan orang lain, ketika orang lain masih ignorant dan melakukan hal sesukannya di luar sana.

Kita lebih suka mengkonsumsi makanan sehat, buah, madu dan lain-lain.

Kampung kita mendapat perhatian lebih dari pemerintah, selalu disemprot dan lain-lain.

Dan masih banyak hal positif lainnya.

Nasehat saya atas pengalaman ini, jangan menyalahkan orang lain terhadap sebuah peristiwa yang terjadi pada diri kita, tapi kita siap bertanggung jawab apa yang terjadi pada diri kita, itulah sikap dewasa.

Kedua jangan memberikan komentar-komentar negatif terhadap orang yang terdampak corona. Itu bisa membuat seseorang bisa bertindak di luar batas, bagaimana jika orang yang dihina datang ke rumah dan meludahi kita. Atau jika dia tidak kuat mental, bunuh diri seperti yang terjadi di rumah sakit di Jakarta.

Sikap negatif kita bisa juga menyulitkan petugas medis dan pemerintah. Banyak contoh pasien tidak mau dibawa ke ruang isolasi.

Hal-hal seperti itu bisa kita hindari dengan rasa tanggung jawab, terbuka dan saling support. Sikap tanggung jawab memberi bantuan ke orang yang dikarantina. Terbukanya informasi tidak ada yang disembunyikan, akan memudahkan petugas medis melacak penyebaran virus dan saling support, agar kita saling bahu membahu dan memudahkan beban kita.

Semoga wabah virus corona ini segera berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasanya, saya berdoa kepada Allah ta’ala agar kita semua dalam perlidungannya, dicukupkan rizkinya dan diberi kesehatan. Aamiin.

Buat pihak-pihak yang menekan saya, silahkan jawab pertanyaan sederhana saya. Apa yang terjadi jika saya tidak melakukan pencegahan di awal?

Bunuh Diri di Tengah Wabah Corona

Bodohnya, di tengah wabah COVID19 ekonomi berantakan, cash flow hancur lebur. Seorang raja malah membeli hasil UKM masyarakat agar ekonomi tetap berjalan. Hei tolol, kuat sampai kapan kamu melakukan itu? Itu sama saja bunuh diri, kalau kamu melakukan itu terus kas kerajaan yang tekor.

Sebelum menyentuh level itu lebih baik, beri kami jaminan keamanan kesehatan. Sehingga masyarakat tidak saling curiga dan tidak khawatir terhadap COVID19. Beri kami SOP bagaimana transaksi yang sehat aman dari virus. Sediakan kami alat penunjang kesehatan, masker, face shield, hand sanitizer dan lain-lain.

Tindak tegas orang yg melanggar aturan kesehatan contoh tidak mau menggunakan masker dan tidak jaga jarak. Keterbukaan informasi tentang data ODP, PDP dan lain-lain. Beri edukasi tentang virus dan lain-lain

Beri kami jaminan itu, insha’allah ekonomi bisa berjalan. Walaupun sedikit naif, kita tahu kerajaan kita masih 0 positif COVID19, kalau kerajaan bertindak tegas, masyarakat tak perlu takut tapi waspada terhadap COVID19. Jika itu dilakukan, sebagai bonusnya tingkat kesehatan masyarakat meningkat 1 level.

Sepedahan Menuju Kerajaan Banjarsari Madiun

Beberapa hari yang lalu saya mendapati video menarik tentang kerajaan Gelang-Gelang di Madiun. Video yang disuguhkan oleh JTV benar-benar membuka wawasan baru saja soal sejarah kota Madiun, yang selama ini hanya tahu soal Kuncen dan situs Simbatan.

Penemuan artefak-artefak kuno di Dolopo membuat hati ini membara ingin mengontel sepeda untuk kesana, tapi karena jarak yang terlalu jauh saya mengurungkan niat.

Tapi rekomendasi di Youtube memberikan thumbnail yang membuat mata ini melirik tentang masjid kuno di Madiun, awalnya aku mengira itu masjid kuno Kuncen. “Klo masjid Kuncen saya pernah ke sana”. Tapi ternyata ini berbeda, ini masjid kuno lain yang terletak di desa Banjarsari Sewulan Kabubaten Madiun.

Dalam video, creator memperkenalkan kepada saya ada kerajaan kecil Islam di Madiun, bernama kerajaan Banjarsari yang didirikan oleh Muhammad bin Umar tahun 1753. Setelah menghabiskan beberapa menit melihat isi video di layar komputer, seketika saya langsung mencari lokasi masjid Kuno itu di Google Maps. Ternyata letaknya tidak jauh dari rumah sekitar 6 km dari rumah.

Hari Minggu jam 15.30 setelah menutup toko, saya mengayuh sepeda Polygon menuju lokasi. Jiwa petualang yang bergejolak membimbing saya ke jalan yang tidak biasa, jalan bergeronjal dan setapak adalah pilihan utama, asal masih bisa dilalui sepeda onthel pasti ku terjang.

Kali ini saya menyusuri bekas rel kereta api, sampai di Kanigoro saya mendapati jembatan bekas rel kereta api, entah ini kereta untuk tebu atau kereta Madiun Ponorogo. Setelah melewati jembatan itu bumi menyuguhkan jalan bergeronjal yang setiap harinya dilalui oleh petani dan pemandangan kanan kiri khas kota Madiun, hamparan padi yang telah menguning menunggu untuk dipanen sangat memanjakan mata.

Getaran sepeda akibat jalan bergeronjal menjadi kenikmatan tersendiri, hingga akhirnya ketemu jalan beraspal, dibandingkan jalan sebelumnya jalan aspal ini bagaikan kulit seorang putri raja, mulus. Jalan itu adalah jalan Lawu, aku menyusurinya hingga malah kesasar sampai SDN Banjarsari wetan. Mungkin karena kurang minum membuat saya kurang konsenterasi hingga tidak tahu arah.

Alhamdulillah tidak tersesat terlalu jauh, tapi tetap membuat kebingungan. Setelah balik arah ketemu jalan Kanigoro Pagotan. Itu berarti tidak lama lagi saya akan bertemu dengan masjid kuno.

Masjid kuno ini tidak sulit ditemukan, karena model bangunannya yang begitu mencolok bahkan orang yang melintas pasti melihatnya. Gerbang tinggi model lawas, didominasi dengan warna putih dengan tulisan arab menyambut ku.

Sepeda ku aku parkir di halaman masjid yang luas, kudapati masjid kecil pendek terkesan jauh dari desian moderen. Walaupun bagitu pesona masjid itu membawa ku ke masa lalu. Mengimajinasikan bagaimana “mbah-mbah” dulu hidup dan belajar agama Islam di bangunan seperti ini.

Ku lepas alas kaki, kutapakan kaki ku untuk segera melihat ke dalam masjid. “Waaaaaaah”, cuma kata itu yang terucap dari mulut ku sambil geleng-geleng kepala. Masjid yang telah berusia 200 tahun masih kokoh berdiri dengan tiang penyangga dari kayu.

Saya tekankan aura di dalam masjid berbeda di bandingkan dengan masjid lainnya. Aroma kesturi meyelimuti masjid, langsung mengingatkan aroma parfum yang dicintai Rasullulah sallallahu ‘alaihi wasallam.

Sangat disayangkan saya tidak mensempatkan diri untuk sholat karena menggunakan celana “gemes”, mungkin hari Jum’at besok insha’allah sholat di sana.

Sinar Matahari mulai mengguning di barat, jam di speedometer telah menunjukan pukul 17:00. Dengan perasaan tidak puas dan penasaran saya meninggalkan masjid, sampai tulisan ini dimuat hati masih terhabat di sana. Saya masih belum bisa mengorek sejarah masjid ini karena tidak ada papan untuk menceritakan sejarahnya, kan biasanya di tempat-tempat sejarah ada “mading” yang menceritakan tempat itu.

Perjalanan pulang saya melewati Krangkeng, ada sungai yang hilirnya kering tapi hulunya banyak air. Menurut sejarahwan, tempat itu termasuk wilayah kerajaan Gelang-Gelang dan sungai itu ada aliran air bawah tanah.

Bisakah Pelabuhan Dikuasai Asing?

Mensoal debat kemarin malam soal pelabuhan atau bandara tidak bisa dikuasai asing itu omong kosong, dari seorang presiden bodoh yg sudah terjebak dalam pelukan “debt trap” Cina.

Dia berkata semua itu adalah investasi dan kerja sama dagang. Tapi ada udang dibalik batu, yaitu hutang yang besar dengan bunga yang tinggi.

Lihatlah kasus di Sri Langka yg pelabuhannya jatuh ke tangan negara Cina, itu karena proyek ambisius presiden Mahinda Rajapaksa yang ingin membangun pelabuhan dan melirik Cina sebagai sumber dana.

Kesulitan membayar hutang, Sri Langka ditekan oleh Cina dan hasilnya 99 tahun pelabuhan yang baru dibangun itu dikuasai Cina.

Polanya hampir sama, presiden Indonesia tidak sadar akan hal itu, dia punya ambisi membangun proyek proyek besar untuk merealisasikan janjinya, tapi hasil dari hutang Cina sebesar 15,491 miliar USD.

Hutang sebesar itu jika tidak bisa dibayar kemungkinan Indonesia akan kehilangan pelabuhan atau bandara yang akan dikuasai Cina.

Salah satu bukti pemerintah sudah ditekan Cina adalah, mudahnya WNA Cina bisa bekerja di Indonesia, buah dari kebijakan “nyeleneh” membebaskan visa wisatawan asing.

Masih ingat gak kasih paket wisata murah di Bali yang didominasi orang cina, sehingga merugikan wisata di Bali.

Dimana wisatawan Cina datang ke Bali, menginap dan berbelanja di hotel dan toko orang Cina yang produknya dari Cina juga.

Bahkan belanjanya menggunakan uang digital Yuan bukan Rupiah. Berharap dapat devisa besar mah nol besar, uang dari Cina kembali ke Cina juga akhirnya.

Seperti inilah hasilnya klo punya presiden bodoh tapi punya ambisi besar, tidak memikirkan resiko dari setiap kebijakannya, menjijikan.

Sebenarnya saya cemas dengan infrastruktur yang dibangun pemerintah sekarang, seperti kereta cepat Jakarta Bandung dan bandara NYAI tidak bernasib sama dengan LRT Palembang yang sepi.

Sehingga kita tidak bernasib sama dengan Sri Langka yang sukses membangun bandara dan pelabuhan tapi sepi, alhasil tidak ada pemasukan untuk membayar hutang.