Kegagalan adalah Pondasi Sempurna Sebuah Kesuksesan

Kegagalan merupakan salah satu momok menakutkan bagi calon pengusaha, mereka acap kali melihat titik hitam itu sebagai sebuah jurang yang membatasi mereka menuju kesuksesan. Ketika mereka terbentur kegagalan, banyak diantara calon pengusaha harus putus asa hingga tidak bisa melihat titik terang dari masalah itu.

Sebenarnya apakah semenakutkan itu sebuah kegagalan? Apakah karena kita telah hilang uang (modal) lantas kegagalan itu menjadi mimpi buruk? Tentu tidak, banyak pengusaha yang mulai dari nol bahkan minus karena sering gagal tapi pada akhirnya bisa mempunyai bisnis yang hebat.

Coba kita tanya pengusaha di sekitar kita, entah kawan, tetangga atau siapa pun, sebelum mereka usaha itu sudah berapa kali mengalami kegagalan?

Bagaimana klo mindset sedikit kita rubah, melihat sebuah kegagaln adalah sebuah pondasi untuk membangun bisnis kita, bukan lagi sebuah hal negatif. Merubah sudut pandang sedikit saja dapat membuat mental kita lebih siap menerima kegagalan dan memudahkan untuk bangkit lagi.

Bukankah hidup kita sering mendapati kegagalan? Contoh di sekolah, ketika SD (sekolah dasar) sering kali tidak dapat menjawab perkalian, tapi seiring waktu kita bisa menjawab bahkan mengerti konsep perkalian. Di game juga seperti itu, melawan bos untuk pertama kalinya sering mati, tapi ketika sudah tahu kelemahan bos dan celah untuk mengelahkannya, kita dapat mengalahkan bos dengan mudah.

Kita lihat kebelakang, apa kegagalan kita dahulu tapi mahir di masa sekarang? Banyak bukan? Bagaimana cara kita berhasil mengatasi masalah itu? Terapkan cara itu juga dalam bisnis kita.

Klarifikasi Soal Tuduhan Merusak Harga Pasar

Dalam bisnis selalu ada persaingan, tapi itu dalam kewajaran jika masih dalam etika bisnis di dalamnya. Kami tau dan kami mengerti karena saya pernah kuliah dan belajar etika bisnis di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) walaupun saya jurusan teknik informatika.

Tepat hari ini kami mendengarkan kabar tidak menyenangkan, ada beberapa pihak yang mengatakan kami merusak harga pasar, benarkah demikian? Dalam artikel ini kami akan mencoba klarifikasi bualan itu, karena pada kenyataannya itu tidak benar dan menghancurkan hubungan business to business kita.

Pertama, kami tidak pernah merusak harga pasar. Harga produk kami tidak dijual di bawah harga pasar untuk merusak harga, malah justru kami menyamakan dengan harga umum agar kondisi ekonomi tetap aman, kondusif dan tercipta persaingan sehat sesama pedagang.

Contoh, harga Aqua galon 19 liter, kami jual dengan harga Rp, 15.000 pada awalnya, pertanggal 1 April 2017 kami naikan ke harga Rp, 16.000 karena dari pihak Pasifik (distributor Aqua Madiun) menaikan harga semua produk-produknya. Di Madiun harga Aqua galon 19 liter rata-rata seharga Rp, 15.000, apakah kami merusak harga pasar dengan menjual sama dengan harga rata-rata di Madiun?

Harga Cleo galon 19 liter, kami jual dengan harga Rp, 16.000 dan per tanggal 1 Mei harga naik menjadi Rp, 16.500. Harga itu juga sama dengan harga rata-rata Cleo di Madiun, apakah kami merusak harga pasar? Bahkan kemarin ada pelanggan baru datang membeli Cleo, kami beri harga Rp, 16.500, dia tidak jadi beli karena menganggap harga Cleo kami mahal, apakah kami merusak harga pasar?

Gas subsidi 3 kg, kami jual dengan harga Rp, 19.000, dimana pada awalnya kami menjual dengan harga Rp, 18.500. Seiring perjalanan waktu gas 3 kg semakin langka dan permintaan semakin tinggi, harga kami naikan. Sedang harga rata-rata gas di Madiun adalah Rp, 18.500 – 19.500. Apakah kami merusak harga pasar?

Harga Aqua gelas Rp, 26.000, Club gelas Rp, 18.000, Cleo gelas Rp, 24.000, gas non-subsidi 12 kg Rp, 140.000 dan Bluegaz Rp, 99.000. Semua harga produk-produk yang kami sebutkan itu sama seperti harga rata-rata di Madiun. Apakah kami merusak harga pasar?

Harga Bluegaz kami seperti yang tertera pada tabung Bluegaz yaitu Rp, 99.000, apakah kami merusak harga pasar?

Menuduh kami dengan “adole ngawur, ngerusak pasaran” (jualannya ngawur, merusak harga pasar) itu sangat keji dan tidak benar. Karena kami berbisnis tidak menggunakan taktik licik seperti itu.

Kedua, jika mau andil dan menuduh kami merusak harga pasar, perlu diketahui harga gas subsidi 3 kg di jalan Salak Madiun ada yang menjual seharga Rp, 17.000 kenapa mereka tidak dituduh merusak harga pasar? Sedang kami menjual gas 3 kg seharga Rp, 19.000 dituduh merusak harga pasar.

Satu contoh lagi, di dekat masjid kuno Madiun (saya tidak tahu jalan apa), mereka menjual harga gas 12 Kg dengan harga Rp, 134.000 sedang kami menjual dengan harga Rp, 140.000, apakah kami merusak harga pasar? Apakah karena kita dilahan yang sama lantas menuduh kami merusak harga pasar?

Koreksi diri, sebelum melakukan tuduhan keji itu lebih baik kita koreksi diri, apakah produk yang kita jual berada dalam kisaran harga wajar atau pelayanan kita kepada pelanggan yang buruk. Dimana hal itu bisa membuat pelanggan lari, bisa jadi pelanggan lari dikarena pelayanan kita yang tidak memuaskan, tidak melulu soal harga.

Ketahuilah sebelah barat toko kami, ada agen gas subsidi 3 kg, tapi warga sekitar jarang yang membeli di sana, padahal harga gas mereka jual dengan harga eceren tertinggi untuk agen, yaitu Rp, 16.500. Kenapa bisa seperti itu? karena pelayanan mereka jelek dan suka mengganggu ketertiban umum.

Di perumahan Green Nirvana, ada yang 1 pelanggan Aqua galon, kami kasih harga Rp, 16.000 tapi dia selalu memberi kami uang Rp, 20.000. Kenapa pelanggan rela membeli galon dengan harga lebih? Karena pelayanan kami.

Ingat harga murah tidak selalu menjadi patokan toko laris atau tidak, tapi pelayanan, apa yang kita berikan kepada pelanggan. Indomart dan Alfamart Aqua gelas Rp, 32.000 juga laris manis, dan pelanggan mereka ya mau membayarnya. Kenapa? Karena pelayanannya.

Merusak bisnis kita sendiri, justru tindakan menuduh orang lain merusak harga pasar dan menjelek-jelekan di depan pelanggan dan distributor kita, membuat citra kita jelek sendiri, sehingga pelanggan-pelanggan melihat citra buruk kita, dilihat dari akhlak yang kita cerminkan, niat hati mau menjelekan orang lain, eh malah menjerumuskan kita sendiri, bukankah itu senjata makan tuan?

Kami tidak mau berlarut-larut dalam tuduhan keji ini, karena kami anggap sebagai angin lalu, cukup tulisan ini membantah tuduhan keji itu. Tapi kami akan memberikan nasehat kepada semuanya, hentikan tuduhan keji itu dan itu lebih baik, dari pada meneruskan perbuatan buruk itu karena sama saja menggali kuburan bisnis kita sendiri.

Dan satu lagi, baca buku Marketing WOW yang warna merah, itu bisa membantu bisnis kita dari pada menjelekan bisnis orang lain 🙂

3 PlayStation 4 Telah Datang, Bisnis Baru Dimulai

Alhamdulillah sekitar pukul 12, 3 PlayStation 4 pesanan ku akhirnya datang juga setelah menunggu 4 hari lamanya. Saya membelinya di Tokopedia seharga kurang lebih 3 juta. Rencananya ke 3 PS ini akan saya pakai untuk usaha rental PS4 di Madiun, karena saya melihat potensi besar dalam bisnis ini. Masih minim persewaan PS4 dan lokasi yang strategis dekat dengan kampus, dimana konsumennya rata-rata adalah anak kampus.

Walaupun PS sudah datang, masih banyak kerjaan yang harus digarap, seperti TV yang belum ada. Memerlukan 3 televisi untuk menjalankan bisnis ini, alhamdulillah sudah ada TV satu di rumah yang bisa dibuat untuk keperluan rental. Gak peduli nanti keluarga nonton TV atau kagak, toh biasanya TV itu juga buat nonton film India, gak berfaedah sama sekalikan?

Oh iya menyoal tentang konsumen, perlu diketahui temmpat ku dikelilingi 4 kampus, tapi yang paling dekat adalah kampus Widia Yuana, kampus Katolik dimana banyak orang luar Jawa yang belajar di sana. Saya menganalisis mahasiswa dari luar Jawa suka sekali main PS, sampai lupa waktu. Bukankah itu pasar yang potensial?

Selain itu saya juga membuat konsep rental PlayStation yang berbeda dengan yang lain, free wifi, di tempat ku belum ada rental PS yang memberikan layanan wifi gratis, tentu ini akan menjadi nilai lebih rental ku nanti. Bagaimana dengan biaya wifi tiap bulan, ditanggung siapa? Wifi sudah ada yang menanggung dari keuntungan usaha ku dari jualan air mineral dan gas. Dan masih banyak strategi-strategi bisnis yang aku siapkan untuk usaha ini.

Konsep itu juga aku gunakan pada bisnis air mineral ku, dimana gratis ongkos kirim, karena biaya bensin sudah ditanggung oleh penjualan telur ayam ku. Sehingga biaya-biaya operasional bisa ditekan dan akan memberikan nilai lebih pakai usaha kita.

Berikutnya apa lagi ya? Entalah saya lagi menggebu-gebu untuk segera membuka usaha baru ini, minta doanya agar urusan dan rejeki lancar.

Kesandung Masa Lalu

Tidak ada yang istimewa hari ini, seperti hari-hari biasa dimana transaksi jual beli kebutuhan gas dan air mineral berjalan dengan semestinya. Pagi hari sudah banyak orang yang mencari gas 3 kg, sayangnya stok gas ku kosong, terpaska mereka harus mencari ke toko lain untuk segera menyalakan kompor mereka.

Ada guyonan lucu dari anak-anak SD yang masih mengenakan seragam hendak berangkat ke sekolah. Ketika aku sibuk bermaian game di depan laptop, anak-anak SD itu ngobrol dengan suara keras.

“We eroh Akbar mau kesandung opo? (kamu tahu Akbar tadi kesandung apa?)”.
“Opo? (Apa?)”.
“Kesandung masa lalu”.
“Hahahaha”, mereka tertawa bersama.

Sontak saya yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka ikut tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala, kok anak SD bisa buat joke dewasa lucu seperti itu ya?

Mengedukasi Masyarakat Menggunakan Gas Non-Subsidi

Rencana pemerintah untuk mengurangi subsidi tidak main-main, terutama di sektor migas. Pemerintah melalui Pertamina tengah getol menekan subsidi yang terus membengkak dikarenakan tidak tepat sasaran, terutama gas 3 kg. Selama ini penjualan gas 3 kg menggunakan sistem terbuka, dimana setiap orang bisa membelinya. Padahal gas 3 kg diperuntukan bagi masyarakat miskin pasca peralihan minyak ke gas. Tapi sistem itu malah membuat orang-orang kaya menikmatinya dan mengeksploitas penggunaan gas untuk bisnis dan konsumsi di luar peruntukannya, seperti penghangat air mandi.

Untuk mengatasi masalah itu, beberapa bulan lalu Pertamina meluncurkan Bright Gas 5,5 Kg untuk mengajak masyarakat beralih ke gas non-subsidi. Di beberapa media Bright Gas dikabarkan disambut positif oleh masyarakat, tapi kenyataan di lapangan yang saya alami sendiri, masyarakat masih enggan untuk beralih ke gas non-subsidi.

Perlu langkah strategis agar masyarakat mau menggunakan gas non-subsidi, selain Pertamina yang harus gencar mempromosikan Bright Gas di media televisi, agen dan penjual harus pro-aktif mengajak masyarakat menanggalkan gas 3 kg. Langkah itu juga saya lakukan, walaupun awalnya berat banyak penolakan dikarena harganya yang relatif mahal.

Penjualan memang tidak selalu sesuai dengan harapan, terutama produk baru yang baru dikenal masyarakat. Maka saya mencoba untuk mengedukasi mereka beralih ke Bright Gas 5 kg. Kelangkaan gas 3 kg dan ketidakstabilan harga menjadi senjata utama ku untuk membujuk mereka. Di Madiun, gas 3 kg mulai sulit didapatkan, walaupun pasokan dari Pertamina lancar tapi sepertinya kebutuhan gas 3 kg jauh lebih dari pasokannya. Maka saya mengajak masyarakat untuk beralih ke Bright Gas 5 kg, dengan jaminan stok gas yang aman dan harga yang stabil.

Sasaran utama saya adalah produsen roti, kebetulan di dekat toko ku ada 2 produsen roti. Sebelum Bright Gas 5 kg dirilis ke pasaran, mereka menggunakan gas 3 kg untuk produksi. Dalam 1 minggu mereka bisa menghabiskan 6 tabung gas 3 kg, sehingga perlu menyiapkan minimal 12 tabung 3 kg agar produksi roti mereka tetap berjalan lancar. Dampatknya saya kelimpungan ketika ada tetangga memerlukan gas 3 kg, stok di toko sudah habis.

Berjalannya waktu situasi semakin terpuruk, pasokan gas 3 kg dikurangi, yang biasanya mendapatkan jatah 40 tabung / minggu dari sub agen sekarang menjadi 8 tabung / minggu. Jika kami khususkan gas 3 kg untuk produsen roti, bisa-bisa masyarakat makin kesulitan mendapatkan gas. Kondisi itu ternyata tidak hanya kami yang alami, tapi hampir semua toko mengeluhkan hal serupa, dengan begitu harga gas 3 kg naik.

Produsen roti kian kesulitan mencari gas, ini merupakan waktu yang tepat untuk menyarankan mereka menggunakan Bright Gas 5 kg. Saya mencoba mengedukasi mereka jika Bright gas pasokannya aman dan harga stabil, selain itu isi lebih banyak dan pemasangan yang gampang. Dengan begitu produksi roti mereka tidak terganggu oleh hal-hal sepele, seperti kesulitan mendapatkan gas dan kesulitan pemasangan gas.

Setiap kali mereka datang ke toko untuk membeli gas 3 kg, saya coba mengobrol mereka, memberitahu kelebihan Bright Gas 5 kg dan kekurangan gas 3 kg. Lambat laun, akhirnya mereka mau pindah ke Bright Gas 5 kg, dengan saya tawarkan promosi 3 gas 3 kg ditukarkan 1 Bright Gas 5 kg.

Kini bagaimana mengajak masyarakat pengguna gas 3 kg beralih ke Bright Gas 5 kg atau 12 kg. Dengan menggunakan strategi yang sama seperti yang kami lakukan kepada produsen roti. Alhamdulillah ada 5 orang mau meninggalkan gas subsidi dengan begitu gas subsidi dapat dinikmati masyarakat miskin. Walaupun begitu ada juga orang kaya enggan menggunakan gas non-subsidi dan menikmati gas subsidi, mungkin ini dikarenakan mental orang tersebut yang bermasalah.